Kamis, 04 Januari 2018

kumpulan makalah SPI

PENDAHULUAN

Apa yang anda ketahui tentang Cirebon? tentunya banyak sekali bukan? Atau justru anda belum mengetahui apapun tentang apa yang ada di dalamnya? Kalau begitu, mari saya perkenalkan kepada anda semua bagaimana sejarah kota ini. Mengapa kota ini bisa disebut sebagai kota Wali dan peristiwa apa saja yang terjadi pada zaman dulu hingga Cirebon dinobatkan sebagai Kota Pertama yang menyebarkan Agama Islam di Jawa Barat.
Setiap kota pasti memiliki sejarah dan keunikan masaing-masing, begitu pula dengan Cirebon. Berbicara tentang sejarah maka tidak akan lepas dari peranan nenek moyang kita, baik itu dari segi pendidikan, struktur sosial, budaya, serta sikap dan perilaku-perilakunya. Dan semua itu patut kita contoh sebagai pedoman perilaku untuk masa depan.  Belajar dari sejarah maka akan berbuat bijak di hari kemudian.
Kota Cirebon, selain disebut sebagai Kota Wali nya pun, ada juga kuliner khas Cirebon yang terkenal hingga keluar manca negara. Sebut saja seperti Nasi Jamblang, Nasi Lengko, Empal Gentong, dan masih banyak lagi. Juga, tak kalah menarik dan terkenal pula budayanya yaitu Tari Topeng, Lukisan Kaca, Batik, Sintren, dan lain sebagainya. Namun dalam artikel ini, saya tidak akan membahas kearah sana, tetapi lebih memfokuskan kepada Sejarah Raden Walangsungsang, Sunan Gunung Jati dan bagaimana terbentuknya Kota Cirebon ini.
Kalau begitu, mari kita jelajahi kota Cirebon tercinta ini. Baca dan pahami dengan teliti, saya akan mengajak anda keliling Jawa Barat bahkan hingga ke Mesir. Menulis artikel ini mengingatkan saya akan perkataan Bung Karno yang mengatakan “Jangan sekali-kali melupakan Jas Merah!”. Selamat membaca. Salam Humaniora.

  


PEMBAHASAN
GUNUNG JATI SEBAGAI PANGGURON ISLAM
Pada permulaan abad ke XV Agama Islam sudah berkembang di Pulau Jawa, terutama di Gresik Jawa Timur. Maulana Malik Ibrahim membuka pesantren bagi siapa saja yang berminat mempelajari Agama Islam. Para santri yang datang sebagian besar dari daerah sekitarnya dan hanya sedikit bagian mereka yang datang dari Jawa Barat yang pada masa itu di bawah kekuasaan Kerajaan Padjajaran. Sedangkan Gunung Jati termasuk wilayah negeri atau daerah Singapura (Celancang), bawahan Padjajaran. Karena letaknya di tepi Pelabuhan Muara Jati, maka banyaklah pedagang-pedagang asing yang datang kesitu, baik pedagang China, Arab, maupun Gujarat atau pantai barat India. Ramainya perahu dagang asing yang berlabuh di pelabuhan Muara Jati itu karena selain letaknya yang setrategis bagi perniagaan juga karena penguasa negerinya Ki Gede Surawijaya dengan Syahbandarnya yang bernama Ki Gede Tapa atau Ki Jumatan Jati yang bersikap toleran terhadap setiap pedagang asing. Alhasil pada masa itu sedang mengalami pergolakan disebabkan ramainya penduduk yang berangsur-angsur masuk agama Islam.
            Seperti kita ketahui bahwa pedagang asing yang berasal dari Arab dan Gujarat ini selain sebagai pedagang, mereka juga sebagai muballigh yang sengaja membawa ajaran Islam ke seluruh penjuru dunia, khususnya Asia Tenggara. Maka pada sekitar tahun 1420 M datanglah serombongan pedagang dari Baghdad yang dipimpin oleh Syekh Idlofi Mahdi memohon agar di perkenankan menetap di perkampungan sekitar Muara Jati dengan alasan untuk memperlancar dagangnya. Oleh Ki Surawijaya rombongan Syekh Idlofi itu diizinkan tinggal di kampung Pasambangan dimana terdapat Gunung Jati. Sejak itulah dia memulai kegiatannya berdakwah mengajak penduduk serta teman-teman dekatnya mengenal Islam. Bagi sebagian orang yang telah mendengar tentang agama baru it uterus saja mendatangi dan menyatakan diri masuk Islam atas ketulusan hatinya. Maka untuk ketenangan mereka yang ingin mempelajari Islam lebih dalam, Syekh Idlofi diperkenankan mengambil tempat di Gunung Jati untuk kegiatan dakwahnya. Itulah awal mula Gunung Jati sebagai Pangguron Islam.
            Dengan caranya yang sangat bijaksana dan penuh hikmah dalam menyampaikan dan mengajak orang masuk Islam, maka pada waktu yang singkat Pangguron Islam Gunung Jati sudah di dengar sampai ke pusat Kerajaan Padjajaran. Demikian itu karena suatu hari Syekh Idlofi kedatangan Raden Walangsungsang dan adiknya Ratu Rarasantang serta istrinya Nyi Endang Geulis yang bermaksud ingin mempelajari agama Islam. Raden Walangsungsang dan ratu Rarasantang keduanya adalah putra putrid Raja Padjajaran Raden Pamanarasa yang bergelar Prabu Siliwangi dari perkawinannya Nyi Mas SubangLarang purti Ki Jumanan Jati yang pada waktu itu sedang belajar di Pangguron Islam Syekh Quro Karawang. Jadi keduanya sebagai cucu Syahbandar Pelabuhan Muara Jati. Kedatangannya di Pangguron Gunung Jati tidak seizin ayahnya, karena Prabu Siliwangi kembali ke agama Budha setelah Nyi SubangLarang meninggal dunia. Sedangkan kedua putra putrid itu sudah dididik dan diberi petunjuk oleh mendiang ibunya agar memperdalam agama Islam di Pangguron Gunung Jati semasa keduanya masih anak-anak.
            Dengan kehadiran keluarga Keraton Padjajaran ini semakin giatlah Syekh Idlofi dalam berjuang mengembangkan agama Allah dan semakin syiar pula nama Pangguron Islam Gunung Jati. Kegiatan dagangnya sudah diserahkan ke beberapa bagian temannya, karena seluruh waktunya sudah dicurahkan untuk berjuang di jalan Allah SWT. Satu kebiasaan yang dilakukan Syekh Idlofi di luar waktu dakwah dan selalu diperhatikan oleh santri-santrinya ialah tafakkur menyendiri di satu tempat seperti Gua di puncak Gunung Jati. Karena itulah para santri memenggilnya dengan nama “Syekh Dzatul Kahfi” artinya “sesepuh yang mendiami gua”.
            Selain dari sebutan itu karena bersinar atau bersinarnya Gunung Jati di luar daerah disebabkan kemuliaan takwanya kepada Allah SWT hingga masyarakat kampung Pasambangan menyebutnya “Syekh Nur Jati” artinya “Sesepuh yang menyinari atau yang menyiarkan Gunung Jati”. Berkenaan dengan itu beliau senantiasa mengamati setiap santri yang akan meninggalkan Pangguron dengan perkataan “Settana” yang artinya Pegang teguhlah semua ajaran yang didapat dari Pangguron Islam Gunung Jati dan jangan sampai lepas. Sejak itu tiap orang yang akan dan dari Pangguron gunung Jati mengatakan dan menamai kampung Pasambangan itu dengan nama “Settana Gunung jati”. Namun pada akhirnya Gunung Jati itu digunakan untuk pemakaman, terutama makam Syekh Dzatul kahfi itu sendiri, maka oleh penduduk Jawa Barat yang sebagian besar berbahasa Sunda sebutan Settana diganti Astana yang artinya kuburan. Walaupun demikian penduduk daerah jawa Barat yag berbahasa Jawa masih banyak yang menyebutkan settana, seperti penduduk asli Cirebon, Indramayu, dan Losari.
            Demikianlah maka kampung Pasambangan yang mencakup sekitar Gunung Jati sampai sekarang dinamakan Kampung atau Desa Astana Gunung Jati. Letaknya kira-kira 12 kilometer arah ke utara dari Terminal Bus Bypass Cirebon. Termasuk wilayah kecamatan Cirebon Utara Kabupaten DT. II Cirebon. luas wilayahnya kuranglebih 36.350 ha terdiri dari 23.010 ha Tanah Desa dan 13.340 ha Tanah Merdeka atau Tanah Keraton. Pada tahun 1987 penduduknya berjumlah 4279 jiwa. Sekitar Komplek Gunung Jati tempat dimakamkannya Guru atau Muballigh Syekh Dzatul Kahfi dipimpin oleh Guru Kunci atas perintah Sultan Cirebon. Selain makam Syekh Dzatul Kahfi yang ada diatas bukit, Gunung Jati digunakan juga sebagai pemakaman umum penduduk desa.
PERTAMANAN GUNUNG SEMBUNG
            Setelah beberapa tahun Raden Walangsungsang bersama adik dan istrinya berguru kepada Syekh Dzatul Kahfi di Pangguron Islam Gunung Jati serta dinyatakan telah memiliki keteguhan iman, dia diperintahkan agar membuka hutan untuk dibabad itu berada di bagian Selatan Gunung Jati. Maka dengan semangat dan ketekunannya Raden Walangsungsang dapat menyelesaikannya dalam beberapa hari. Setelah selesai pendukuhan itu diberi nama Tegal Alang-Alang dan Raden Walangsungsang dipilih sebagai kepala dukuh dengan gelar Ki Kuwu. Bersamaan dengan itu pula Raden Walangsungsang dijuluki Pangeran Cakrabuana.
            Dengan bekal kearifan  dan kerja sama yang baik dengan warganya dalam segala bidang, Pnageran cakrabuana berhasil mempercepat laju perekonomian Tegal Alang-Alang sehingga banyak pedagang asing dari beberapa bangsa dan ras yang berpasaran disitu. Karena percampuran bangsa yang berlainanan watna kulit yang berbeda agama serta kepercayaan itu, maka banyak pendatang yang menamakan pendukuhan Tegal Alang-Alang itu sebagai caruban (pertautan). Di samping itu karena sebagian besar warganya bekerja sebagai pencari ikan dan membuat petis dari air udang atau bahasa sundanya cai rebon, maka masyarakat menyebutnya Cirebon sampai sekarang.
            Di tempat kesibukannya memimpin pendukuhan Cirebon yang laju semakin pesat itu Pangeran Cakrabuana diperintah oleh gurunya Syekh Dzatul Kahfi agar menunaikan ibadah haji bersama adiknya Nyi Ratu Rarasantang. Sedangkan istrinya diperintahkan untuk tinggal di rumah berkenaan dengan kandungannya yang sudah mendekati masanya. Sedangkan untuk mennggatikan kepemimpinan Pedukuhan Cirebon, beliau menunjuk Ki Penggalang Alang atau disebut juga Ki Danusela. Dengan kapal dagang asing yang menuju ke tanah Arab, berangkatlah Pangeran Cakrabuana bersama adiknya Ratu Rarasantang.
            Di kota Suci Mekkah kedua kakak beradik itu bermukim beberapa bulan di rumah Syekh Bayanillah sambil menambah Ilmu Agama Islam. Disinilah terjadi peristiwa penting, yaitu dinikahinya Ratu Rarasantang oleh seorang pembesar kota Isma’iliyah bernama Syarif Abdillah bin Nurul Alim dari suku Bani Hasyim. Pada masa itu pusat pemerintahan Islam berada di Turki (Istanbul). Dan untuk lebih dekatnya dengan lingkungan, maka Syarif Abdillah mengganti nama Rarasantang dengan nama Syarifah Muda’im. Dari perkawinan itu kemudian dikaruniai dua orang putera, masing-masing Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah.
            Kuranglebih tiga bulan setelah kelahiran keponakannya itu, Pangeran Cakrabuana berpamit untuk kembali ke tanah Jawa Caruban. Dalam perjalanan pulang itu, Pangeran Cakrabuana mampir di negeri Cempa (wilayah Kampuchea) dengan maksud agar berguru pula, keran disana ada seorang ulama yang berasal dari Arab, yaitu Syekh Maulana Ibrahim Akbar. Tetapi tidak lama karena rindu akan bayi yang sudah lahir, Pangeran Cakrabuana meneruskan perjalanannya pulang dengan disertai seorang puteri Cempa yang ingin berguru di Tanah Jawa, khususnya di Cirebon.
            Sesampainya di Caruban sekitar tahun 1456, Pangeran Cakrabuana merasa kagum atas majunya pedukuhan Caruban sepeninggalnya di Kota Mekkah. Terutama pasaran produksi petis dan terasinya yag telah banyak dikirim ke seluruh Kerajaan Padjajaran. Maka bersamaan dengan diserahkannya kembali jabatan Kuwu dari Ki Penggalang Alang kepada Pangeran Cakrabuana, Padukuhan Caruban ditingkatkan menjadi sebuah negeri dengan nama Nagari Caruban Larang sekaligus membentuk pemeritahannya.
            Karena baru pertama kali ada negeri yang menggunakan pola pemerintahan Islam di wilayah padjajaran, maka berita tentang jadinta Nagari Caruban Larang begitu cepat terdengar dan mengejutkan negeri-negeri lainnya bahkan sampai ke pusat Kerajaan Padjajaran. Kendati sedikit kurang berkenan di hati Prabu Siliwangi akan berdirinya negeri yang berhaluan Islam ini, namun karena pendirinya adalah anaknya sendiri, maka Sang Prabu memberinya gelar Sri Manggana. Pada saat meresmikan negeri itu, kehadirannya memenuhi undangan sang putera disertai dengan Raden Jaka Sengara adik Pangeran Cakrabuana yang pada akhirnya menetap juga di Caruban karena tertarik dengan Agama Islam.
            Guna mengimbangi kemajuan Nageri Caruban yang kian pesat Pangeran Cakrabuana terus membenahi sarana-sarana pemerintahnnya. Untuk itu ia membangun Istana Negeri yang diberi nama Istana PakungWati, nama putrinya sendiri yang lahir ketika ia masih di Tanah Suci Mekkah. Selain itu untuk kunjungan tetapnya ke Syekh Dzatul Kahfi di Guung Jati, dibangun pula tempat peristirahatan atau petamanan Gunung Sembung, terletak di sebelah barat Gunung Jati. Di pertamanan Gunung Sembung itu dilengkapi dengan kolam pemandian di bagian selatan dan balai peristirahatannya. Dalam membangun pertmanan ini, Pangeran Cakrabuana teringat akan tanah pasir yang pernah ia injak di suatu daerah semasa dalam perjalanan pulang dari Mekkah, yang seperti celak mata dan terdapat di daerah Malela bagian dari Cempa. Untuk itu mengutus beberapa orang yang dikawal oleh Nyai Ratu Cempa dengan sebuah perahu dagang guna mengangkut beberapa gunduk sekedar melapisi bagian bukit Gunung Sembung.
            Hingga sekarang tanah pasir yang ada di puncak gunung Sembung itu dinamai Pasir Malela yang tidak boleh berpindah tempat atau terbawa sedikitpun. Bahkan telapak kaki juru kunci yang bertugas disana juga harus membersihkan setiap akan turun, dengan maksud agar tidak membawa pasir itu. Hal ini mungkin karena pada waktu mengangkutnya teramat susah dan banyak melibatkan pihak lain sehingga Pangeran Cakrabuana wanti-wanti kepada pengurusnya agar menjaga Pasir Malela ini.
            Sebagaimana halnya Pangguron Gunung Jati, pada akhirnya pertamanan Gunung Sembung pun dijadikan tempat kediaman terakhir atau tempat pemakaman pendirinya Pangeran Cakrabuana dan juga segenap keturunannya sampai sekarang. Jarak antara Gunung Jati dengan Gunung Sembung sekitar kurang lebih 200 meter masih dalam wilayah Desa Astana. Disitulah terdapat makam Sunan Gunung Jati yang setiap hari dijaga oleh 12 orang juru kunci berpakaian kain dan ikat kepala dengan tugas masing-masing sesuai dengan jenjang kepangkatannya. Secara umum mereka bertugas menjaga dan memelihara makam Sunan Gunung Jati dan keturunannya serta benda-benda yang ada disekitarnya yang termasuk komplek permakaman.


SUNAN GUNUNG JATI BUKAN FATAHILLAH
Ulama-ulama yang digurui oleh Syarif Hidayatullah adalah Syekh Tajmuddin al Kubro dan Syekh Ataillah Syadzali. Selain ilmu-ilmu agama dan sosial, beliau pun mempelajari Ilmu Tasawuf dari Ulama-Ulama Baghdad. Pada saat Syarif Hidayatullah berusia dua puluh tahun, Syarif Abdillah meninggal dunia. Maka sebagai putera yang tertua Syarif Hidayatullah ditunjuk untuk menggantikannya memerintah kota Isma’illiyah. Akan tetapi karena dia sudah bertekad untuk melaksanakan harapan ibunya, yaitu menjadi muballigh di Caruban, maka dia melimpahkan jabatan itu kepada adiknya Syarif Nurullah.
Beberapa bulan setelah pengangkatan Syarif Nurullah sebagai penguasa kota Isma’illiyah, ibunya Syarif Muda’im meninggalkannya untuk pulang ke Tanah Jawa bersama Syarif Hidayatullah. Dalam perjalanan pulangnya, ibu dan anak tersebut beberapa kali singgah di beberapa daerah dengan waktu yang tidak menentu. Seperti di Mekkah, Gujarat, dan Pasai. Dan sekitar tahun 1475 keduanya baru sampai di Caruban. Dapatlah digambarkan bagaimana suasana di Istana Pakungwati Nagari Caruban itu saat menyambut kedatangan Syarifah Muda’im dan anaknya.
Pada masa itu Syekh Dzatul Kahfi telah wafat dan dimakamkan di tempat perguruannya itu. maka dengan alasan agar selalu dekat dengan makam gurunya. Syarifah Muda’im mohon untuk tinggal saja di kampung Pasambangan bersama putranya Syarif Hidayatullah. Oleh Pangeran Cakrabuana keduanya diperkenankan untuk tinggal di pertamanan Gunung Sembung sambil mengajarkan Agama islam sebagai penerus Pangguron Islam Gunung Jati. Disaat yang sudah ditentukan dan sesuai dengan yang sudah direncanakan, Pangeran Cakrabuana menikahkan Syarif Hidayatullah dengan putrinya Nyi Ratu Pakungwati. Selanjutnya pada ahun 1479, karena usianya yang semakin lanjut Pangeran Cakrabuana mengalihkan kekuasannnya atas Negari Caruban kepada menantu yang juga keponakannya, Syarif Hidayatullah dengan gelar Susuhunan atau Sunan.
Pada tahun pertama pengangkatannya beliau berkunjung ke Padjajaran guna memperkenalkan diri dan sungkem kepada eyangnya serta mengajaknya kembali ke agama Nabi. Tetapi Prabu Siliwangi tidak menyambut baik ajakan itu. meskipun demikian tidak menghalangi cucunya itu mengembangkan agama Islam di wilayah Padjajaran. Karena itu Syarif Hidayatullah melanjutkan perjalanannya menuju ke daerah Serang yang sebagian rakyatnya sudah sering mendengar tentang Islam dari pedagang-pedagang Arab dan Gujarat yang berlabuh di Kabupaten Banten.
Ternyat disana mendapat sambutan baik dari Adipati Banten, hingga untuk kelancaran dakwahnya beliau diperkenankan menikah dengan putrinya yang bernama Nyi Ratu Kawunganten. Darinya beliau dikaruniai dua orang putra yang bernama Nyi Ratu Winaon dan Pangeran Sabakingking. Berita tentang tampilnya seorang Muballigh asal Kota Isma’illiyah sebagai pemimpin Nagari Caruban initerdengar oleh Demak yang baru setahun berdiri sebagai KErajaan Islam pertama Di Pulau Jawa di bawah kekuasaan Raden Fatah yang bergelar Sultan. Tepatnya pada tahun 1478 Demak berdiri, setelah Raden fatah berhasil menumbangkan kekuasaan Prabu Girindrawardhana atas Majapahit yang bergelar Brawijaya VII.
Demi mendengar bahwa di wilayah Padjajaran Agama Islam berkembang pesat setelah Nagari Caruban dipimpin oleh Syarif Hidayatullah. Maka Raden Fatah bersama-sama para Muballigh lainnya yang kesemuanya sudah bergelar Sunan menetapkan bahwa Syarif Hidayatullah penguasa Nagari caruban sebagai Penetap Panata Gama Rasul di tanah Pasundan, artiya yang ditetapkan sebagai pemimpin penyiaran agama Nabi Muhammad SAW di wilayah Jawa bagian Barat. Lebih dari itu pada saat Syarif Hidayatullah menghadiri undangan musyawarah para Sunan dalam menyusun strategi pengembangan Islam di Jawa serta rencana untuk membangun Masjid Agung Demak, beliau ditetapkan juga sebagai Sunan Cirebon dengan gelar Sunan Gunung Jati. Bermula disini pula terbentuklah siding Dewan Wali Sembilan.[1]
Wali Sanga itu terdiri dari:
1.      Maulana Raden Rahmat: Sunan Ampel (Surabaya)
2.      Maulana Makdum Ibrahim: Sunan Bonang (Tuban)
3.      Maulana Raden Paku: Sunan Giri (Gresik)
4.      Maulana Syarifuddin: Sunan Drajat (Sedayu)
5.      Maulana Ja’far Shodiq: Sunan Kudus (Kudus)
6.      Maulana Raden Syahid: Sunan Kalijaga (Kadidangu)
7.      Maulana Raden Prawata: Sunan Muria (Kudus)
8.      Maulana Malik Ibrahim: Sunan Gresik (Gresik)
9.      Maulana Syarif Hidayatullah: Sunan Gunung Jati (Cirebon)
Dengan terbentuknya Wali Sanga ini, maka terjadilah rasa sepenanggungan dalam menegakkan Agama Islam di tanah Jawa. Karenanya sebagai tindak lanjut dari permusyawaratan itu, Raden Fatah menyarankan agara Caruban sekalian dijadikan Kesultanan yang tidak lagi yang harus menghaturkan bulubekti (upeti) kepada Padjajaran yang disalurkan lewat Kadipaten Galuh. Hal ini dimakduskan untuk mempercepat perkembangan Islam ke kadipate-kadipaten di wilayah itu. dan sekembali dari Demak kesekian kalinya, dengan bantuan serta dukungan sepenuhnya dari Raden Fatah, berdirilah Kesultanan Pakungwati dengan Syarif Hidayatullah sebagai Sultan yang pertama.
Tindakan Cirebon yang demikian itu jelas sebagai tentangan bagi Padjajaran sebab dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap negeri-negeri lainnya. Olleh sebab itu tidak peduli siapa yang duduk di Kesultanan Cirebon itu, Prabu Siliwangi menurunkan satu angkatan yang di pimpin oleh Temenggung Jayabaya untuk menagkap cucunya itu. tetapi dengan segala kemungkinan yang bakal terjadi telah diperhitungkan dengan matang oleh Sunan Gunung Jati, maka sepasukan dari Padjajaran itu tidak sampai berbuat banyak. Mereka yang hanya berjumlah sekitar enam puluh orang berikut dengan Temenggung Jayabaya akhirnya menyerah dan tidak kembali ke Padjajaran. Dan apabila telah datang pertolongan Allah dengan kemenangan itu, banyaklah yang lainnya menyusul menyatakan diri masuk Islam.
Dengan bertambahnya beberapa orang dari Padjajaran, semakin besarlah pengaruh Cirebon tehadap wilayah-wilayah yang ada di Padjajaran. Seperti Surantaka, Japura, Wanagiri, Galuh, Talaga, dan negeri asal Pedukuhan Caruban, Singapura yang telah melebur diri menjadi wilayah Kesultanan Cirebon. Lebih-lebih dengan diperluasnya Muara Jati jelas menambah ramainya perdagangan antar nusa sampai ke Manca Negara. Bahkan yang terbanyak di antara pedagang asing adalah dari Tiongkok yang kebanyakan membawa barang-barang hiasan dari keramik atau porselin.
Membanjirnya pedagang Tiongkok di Cirebon ini setelah adanya pembauran melalui perkawinan antara kakak Ki Gede Tapa, Nyi Rara Rudra dengan seorang saudagar Tiongkok Ma Huang yang kemudian dialihkan jadi Ki Dampu Awang. Dari Ki Dampu Awang inilah kaisar Tiongkok mendengar bahwa Sunan Gunung Jati Syarif Hidayatullah adalah keturunan bangsawan Arab. Oleh sebab itu ia mengizinkan anak puterinya dibawa oleh Ki Dampu Awang dan dinikahkannya Sunan GunungJati demi keuntungan bangsanya dalam menjalin hubungan dagang di masa-masa sterusnya. Putrid Kaisar Tiongkok ini bernama Ong Tien yang kemudian diganti dengan nama Nyi Ratu Rara Sumanding. Dari putri Tiongkok inilah Keraton Pakungwati mengalami perluasan yang banyak menggunakan hiasan dinding dari porselin buatan Tiongkok. Pernikahan Sunan Gunung Jati dengan putrid Ong Tien ini  sebagai istri ketiga berlangsung pada sekitar tahun 1481. Setahun setelah pembangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon.
Masjid Agung Sang Cipta Rasa dibangun pada tahun 1480 atasa prakarsa Nyi Ratu Pakungwati dengan dibantu oleh Walisanga dan beberapa tenaga ahli yang dikirim Raden Fatah. Dalam pembangunan masjid itu, Sunan Kalijaga mendapat penghormatan untuk mendirikan Sokoguru yang dari kepingan-kepingan kayu disusun menjadi sebuah tiang dan dinamakan Sakatatal. Selesai Masjid Agung, pembangunan diteruskan ke jalan-jalan raya yang menuju negeri tetangga sambil menyertakan pembangunan di bidang mental memperluas pengembangan Islam ke seluruh negeri Pasundan. Sementara raja Padajajaran hanya bisa menahan diri meski dalam hatinya sudah sangat cemas karena pengaruh Cirebon yang sudah mendekati pusat pemerintahan pakuan Padjajaran. Namun demikian, sejanak kadang-kadang Prabu Siliwangi merasa bangga demi menyaksikan keberhasilan anak cucunya hingga dapat menguasai sepanjang pantai utara Pasundan. Sikap itulah yang diambil oleh Pangeran Cakrabuana dan dimanfaatkannya selaku penasihat Sultan untuk membenahi wilayah Negeri dan pengembangan Islam.
Sunan Gunung Jati mengambil istri lagi seorang putrid dari Ki Ageng Tepasan mantan pembesar Majapahit yang turut dengan pasukan Demak ke Cirebon. putrid Ki Ageng Tepasan itu bernama NYi Ageng Tepasari. Hal ini karena alasan, pertama meninggalnya Nyi Ratu Pakungwati dalam peristiwa Memolo Masjid Agung dan kedua karena perkawinannya dengan Nyi Ong Tien belum dikaruniai seorang anak. Dan kenyataan pada akhirnya dari perkawinan ini dikaruniai dua orang anak, Ratu Wulung Ayu dan Pangeran Muhammad Arifin yang kelak menggantikan ayahandanya dengan gelar Pangeran Pasarean.


Sultan Cirebon Syekh Syarif Hidayatullah menyelenggarakan tasyakuran bersama dengan menikahkan Fatahillah dengan putrinya Ratu Wulung Ayu. Berkenaan dengan ini jabatan Bupati Jayakarya secara resmi diserahkan kepada Ki Bagus Angke. Kemudian setelah segalanya diatur dengan tertib dan usia Sultan telah lanjut, maka sang putra Pangeran Muhammad Arifin  dinobatkan sebagai Sultan ke II dengan gelar Pangeran Pasarean. Untuk penasihat Sultan yang masih muda ini Sunan Gunung Jati dengan persetujuan warga kessultanan lainnya mengangkat Fatahillah dengan sebutan Ki Bagus Pasai, dan Sultan Gunung Jati kembali ke Gunung Sembung guna menta agama Pasambangan yaitu menjadi guru agama Islam di Pangguron Pasambangan.
Langkah demikian yang diambil oleh Sunan Gunung Jati ini sesuai dengan apa yang telah direncanakan sejak masih di negeri Mesir bahwa beliau ingin menjadi Pengmbang Islam di Jawa. Namun sebaik-baik rencana manusia, rencana Tuhan lebih baik. Pada tahun kelima pengangkatannya kuranglebih tahun 1552 Pangeran Pasarean Sultan kedua Cirebon itu mendahului ayahandanya berpulang ke Rahmatullah. Alhasil pada tahun itu pula sang putra Pangeran Sabakingking telah dinobatkan sebagai Sultan Banten yang pertama dengan gelar Sultan Maulana Hasanuddin.
Dengan wafatnya Pangeran Pasarean ini, Sunan Gunung Jati yang telah merintis ketentraman hari tuanya dengan menata Agama di Pasambangan itu kembali mengambil kebijaksanaan dalam tata pemerintahan Kesultanan Cirebon dengan mengangkat Aria Kamuning sebagai Sultan Cirebon ke III dengan gelar Dipati Cirebon I. sebelum pengangkatannya Aria Kamuning sudah menjadi menantu Ki Bagus Pasai karena memperistri putrinya yang bernama Nyi Ratu Wanawati dan selanjutnya menurunkan empat orang putra putrid, yaitu Nyi Ratu Ayu, Pangeran Mas, Pangeran Manis, dan Pangeran wirasaba. Masa pemerintahan Dipati Cirebon I kuranglebih dua belas tahun, pada tahun 1565 tahta kesultanannya diserahkan kepada putranya yang baru berusia 18 tahun yaitu Pangeran Mas dengan gelar Sultan Panemban Ratu I. Karena usianya yang terlalu muda, maka Sultan Panemban Ratu I ini banyak memerlukan saran-saran dan bimbingan dari sesepuh Keraton. Sedangkan sesepuh Keraton seperti Sunan Gunung Jati dan Ki Bagus Pasai sudah terlalu tua untuk bersanding di Keraton. Oleh karenanya, pada masa pemerintahan Panemban Ratu I Cirebon sedikit mengalami penurunan, terutama hal pengembangan Agama.
Dalam suasana keprihatinan itu, dalam tahun 1568 seluruh warga kesultanan Cirebon berduka cita dengan berpulangnya kealam baqa Syekh Maulana Syarif Hidayatullah Sultan Mahmud setelah genap berusia 120 tahun. Bersama ibu Syarifah Muda’im dan paman uwaknya Pangeran Cakrabuana, beliau dikebumikan di Pertamanan Gunung Sembung. Dan dua tahun kemudian menyusul Ki Bagus Pasai Fatahillah dimakamkan di tempat yang sama. Demikianlah sekilas tentang riwayat kedua tokoh, mudah-mudahan bisa dimaklumi bahwa Sunan Gunung Jati adalah Syarif Hidayatullah bukan Fatahillah.

KESIMPULAN
            Berdasarkan pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa dalam hal manusia yang telah dekat dengan Allah SWT dan menjadi kekasih-Nya, maka apapun yang dipanjatkannya kepada Allah SWT akan selalu terkabulkan. Namun bagi seseorang yang telah mencapai tingkat itu yang ada benaknya hanyalah Allah Yang Maha Esa. Karena itu tidaklah sekali-kali memohon kepada-Nya perkara duniawi, sebab hubungannya dengan perkara dunia telah terhalang oleh takwanya kepada Allah sebagaimana hubungan manusia macam kita oleh Allah SWT senantiasa terhalang oleh dosa-soda yang telah kita lakukan.
            Beliau ditunggu kehadirannya, disambut kedatangannya, dihormati kedudukannya, diterima baik ajakannya, disayangkan kematiannya, dan diziarahi kuburannya, kesemuanya itu tanpa diminta atau diusahakan. Semua penziarah atau pendo’a datang atas dorongan jiwa dan kerelaan dirinya, karena meyakini bahwa makam yang hendak didatangi itu kuburan seorang yang dekat dengan Allah serta berjasa besar dalam menuntun masyarakat Tanah Jawa khususnya menuju keridhoan Allah SWT. Siapakah beliau orangnya? Tidak lain tidak bukan, beliau adalah Syekh Syarif Hidyatullah Sunan Gunung Jati.






   
DAFTAR PUSTAKA
Basyari Hasan. 1989. Sekilas Komplek Makam Sunan Gunung Jati dan Sekilas Riwayatnya. Cirebon. Zul Fana Cirebon.
P.S. Sulendraningrat. 1984. Babad Tanah Sunda Babad Cirebon. Cirebon. Terjemahan tulisan Arab pegon berbahasa Cirebon madya. Keraton Kasepuhan.
           


[1] Termasuk Wali Sanga karena sebagai perintis pengembangan Agama Islam di Jawa meskipun pada masa terbentuknya Dewan Wali Sanga beliau sudah wafat sejak tahun 1419, sebelum berdirinya Kesultanan Demak. Seperti telah dijelaskan di bagian terdahulu, bahwa pada sekitar tahun itu di Cirebon baru kedatangan Syekh Dzatu Kahfi yang kemudian mendirikan Panggunan Islam Gunung Jati.



2.A.   Pengertian Filsafat
Istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani Philoshopia, tersusun dari kata philo yang artinya cinta dan shopos yang atinya kebijaksanaan, dengan demikian kata philoshopia secara harfiah adalah mencintai kebijaksanaan. Mempelajari filsafat berarti upaya manusia untuk mencari kebijaksanaan hidup dan menjadi konsep yang bermafaat bagi peradaban manusia.
Pengertian Filsafat menurut beberapa filsuf, antara lain Plato; tidak lain daripada pengetahuan tentang segala yang ada. Aristoteles; menyelidiki sebab dan asas segala benda.
Menurut Suriasumantri, ada empat hal yang berkaitan tentang dasar-dasar filsafat ilmu, yaitu; penalaran, logika, sumber pengetahuan, dan kriteria kebenaran.
Penalaran maksudnya adalah kemampuan manusia untuk berpikir akan sesuatu. Manusia memiliki kemampuan berpikir secara rasional, logis, juga sistematis dan disampaikan dengan bahasa yang efektif dalam berkomunikasi. Logika secara umum dibagi menjadi dua macam, yaitu logika deduktif atau formal dan logika induktif atau material (isi). Logika deduktif adalah suatu ilmu yang mempelajari hukum-hukum, dan hukum tersebut harus ditaati agar pola berpikirnya benar dan mencapai kebenaran, sedangkan logika Induktif adalah suatu kesimpulan atau isi yang bersifat boleh jadi, kadang disebut juga metode-metode Ilmiah.
Sumber pengetahuan maksudnya adalah produk sejarah kehidupan manusia. Ada dua jenis sumber pengetahuan, yaitu; pengetahuan yang didapat dari hasil usaha manusia baik melalui penalaran ilmiah maupun perasaan intuisi; dan pengetahuan yang didapat bukan dari usaha manusia, yaitu wahyu Tuhan memalui para Malaikat dan para Nabi atau Rasul. Kriteria kebenaran disini maksudnya adalah lebih menekankan pada benar dan salah dalam perspektif logika.


B.   Filsafat Pancasila
Filsafat Pancasila dapat didefinisikan sebagai refleksi kritis dan rasional tentang pancasila sebagai dasar Negara dan kenyataan budaya bangsa dengan tujuan mendapatkan pokok-pokok pengertiannya yang mendasar dan menyeluruh. Pancasila sebagai filsafat merupakan hasil permenungan jiwa yang mendalam yang dilakukan oleh The Founding Fathers Indonesia, yang dituangkan dalam suatu sistem.
Sebagai filsafat, Pancasila memiliki dasar ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Dasar-dasar Ontologis Pancasila menunjukkan bahwa pancasila itu benar-benar ada dalam realitas dengan identitas dan entitas yang jelas. Dasar Ontologis Pancasila mengungkap status istilah yang digunakan, isi dan susunan sila-sila, tata hubungan, serta kedudukannya secara filosofis.
Dasar Epistemologi Pancasila terkait dengan sumber dasar pengetahuan Pancasila. Eksistensi Pancasila dibangun sebagai abstraksi dan penyederhanaan terhadap realitas yang ada dalam masyarakat Indonesia dengan lingkungan yang heterogen, multikultur, dan multietnik dengan cara menggali nilai-nilai yang memiliki kemiripan dan kesamaan untuk memecahkan masalah yang dihadapi bangsa Indonesia.
Dasar Aksiologi Pancasila terkait erat dengan penelaahan atas nilai. Pancasila tidak bisa dilepaskan dari latar belakang bangsa Indonesia, karena pancasila bukan nilai yang ada dengan sendirinya melainkan nilai yang diciptakan oleh bangsa Indonesia. Pancasila memiliki nilai intrinsik dan ekstrinsik atau instrumental. Nilai intrinsik Pancasila adalah hasil perpaduan antar nilai asli milik bangsa Indonesia dan nilai yang diambil dari budaya luar Indonesia.
Nilai ekstrinsik atau instrumental mengandung imperatif dan menjadi arah dalam proses mewujudkan cita-cita bangsa, harus menyesuaikan dengan sifat yang ada dalam nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial.

Referensi :  Muthahhari, M.. 1997; Tafsir, A. 2007.
Suriasumantri, 1998; Hanafi, H., 2004.
Kaelan, 2002, Filsafat Pancasila, Pandangan Hidup Bangsa Indonesia, Paradigma, Yogyakarta.
3.

Review  Buku
Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar
Penulis : Sardiman A.M.
Penerbit : PT RajaGrafindo Persada Jakarta
Tahun Terbit : 2003
Tebal Halaman : 230
            Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk individu dan sosial, yang hidupnya ditandai dengan saling interaksi. Dari berbagai macam interaksi itu ada interaksi yang disengaja, yakni interaksi edukatif. Secara khusus, interaksi edukatif sebagai interaksi belajar mengajar yang berintikan pada kegiatan motivasi. Guru harus memahami tentang diri siswa dan memahami keprofesiannya di bidang kependidikan. Untuk itu maka perlu dikaji konsep belajar-mengajar. Tujuan dasar sebagai dasar motivasi, motivasi dan aktivitas belajar, diri anak didik dan kependudukan guru, dan usaha mengelola interaksi belajar-mengajar harus dipahami.
            Istilah interaksi berpangkal pada konsep komunikasi yang berarti menjadikan milik bersama atau memberitahukan tentang pengetahuan, pikiran-pikiran, keterampilan, dan nilai. Interaksi edukatif adalah proses interaksi yang disengaja, sadar tujuannya, yakni untuk mengantarkan anak didik ke tingkat kedewasaannya. Interaksi edukatif memiliki ciri-ciri sadar tujuan, ada bahan atau pesan, ada subjek didik atau pelajar, ada guru, motode, ada situasi yang kondusif, dan ada penilaian.
            Pendidikan dapat dirumuskan dari sudut normative, karena merupakan peristiwa yang memiliki norma-norma. Tetapi kaitannya dengan interaksi edukatif, pendidikan dapat dirumuskan dari sudut proses teknis. Sehubungan dengan proses teknis inilah maka secara spesifik interaksi edukatif dapat dikatakan sebagai interaksi belajar-mengajar. Ciri-ciri interaksi belajar-mengajar yakni memiliki tujuan, ada suatu prosedur (jalannya intraksi) yang direncanakan, ditandai suatu garapan materi secara khusus, aktifitas, guru sebagai pembimbing, disiplin waktu, dan penilaian.
            Sebagai kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar adalah kegiatan mengajar. Mengajar adalah usaha untuk menciptakan kondisi yang kondusif agar berlangsung kegiatan belajar yang bermakna dan optimal. Mengajar dalam hal juga menyangkut transfer of knowledge dan yang mendidik transfer of values. Dengan demikian dapat mengoptimatisasikan kegiatan belajar mengajar yang bermakna. Ciri dari hasil belajar yang bermakna adalah tahan lama dan asli atau otentik.
            Tujuan adalah suatu rumusan hasil yang diharapkan dari siswa setelah menyelesaikan atau memperoleh pengalaman belajar. Tujuan ini sangat penting karena merupakan pedoman untuk mengarahkan kegiatan belajar. Dalam tujuan pendidikan dan pengajaran dikenal adanya tujuan akhir dan tujuan intermedier. Hal ini dijadikan dasar motivasi. Tujuan akhir bersifat filosofis dan politis. Filosofis dan bersifat politis karena tujuan itu ditetapkan sebagai undang-undang atau peraturan. Tujuan intermedier relative bersifat operasional, karena akan menunjuk langkah-langkah yang dapat dikerjakan melalui suatu proses. Tujuan pendidikan itu berjenjang, yakni yujuan Pendidikan Nasional, Kurikuler dan Intruksional atau Pembelajaran.
            Motivasi berpangkal dari kata “motif” yang dapat diartikan daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktifitas-aktifitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Ada tiga elemen dalam motivasi, yakni motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energy, ditandai dengan adanya feeling, dan dirangsang karena adanya tujuan. Bentuk-bentuk motivasi dalam belajar yaitu member angka, hadiah, ego-involvement, member ulangan, mengetahui hasil, pujian, hukuman, hasrat untuk belajar, minat.
            Guru sebagai tenaga professional, berarti pekerjaan guru itu memerlukan pendidikan lebih lanjut di dalam science dan teknologi yang dapat digunakan sebagai perangkat dasar untuk diterapkan dalam berbagai kegiatan demi kemaslahatan umum. Menitikberatkan pekerjaan mental daripada manual work. Pekerjaan guru sebagai tenaga professional ditandai juga adanya informed responsiveness dan hasil pekerjaannya akan berkait dengan accountability. Guru yang lebih komprehentif akan memiliki tiga tingkatan kualifikasi professional, yakni capable, innovator, dan developer.
            Untuk melaksakan tugasnya dengan professional maka guru memiliki beberapa peranan antara lain adalah sebagai informator, organisator, motivator, fasilitator, mediator, konselor, evaluator.dalam kaitan ini perlu diciptakan hubungan baik antara guru dan siswa, termasuk pengembangan hubungan-hubungan secara informal dan contact-hours. Dalam melaksanakan tugasnya itu, diperlukannya kode etik guru. Kode etik guru merupakan pedoman tingkah laku kepada peserta didik dalam berinteraksi. Kode etik guru juga sebagai penangkal dari kecenderungan tingkah laku guru yang akan menyeleweng.
            Anak didik adalah subjek belajar, sebab anak didik adalah sentral kegiatan dan pihak yang mempunyai tujuan. Kompenen-kompenen yang lain adalah faktor pendukung. Jadi, yang aktif adalah anak didik. Anak didik sebagai subjek belajar sebenarnya memiliki berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi misalnya kebutuhan jasmaniyah, sosial dan intelektual. Seseorang atau khususnya siswa dapat memenuhi kebutuhan, merasa puas jika dapat memenuhi “developmental tasked”.
            Siswa sebagai subjek belajar, mak perlu dikembangkan individunya, karena yang dikatakan sebagai manusia utuh itu adalah bersifat pesona. Sehingga dalam kegiatan belajar-mengajar perlu dikembangkan pada pembinaan individu-individu siswa. Oleh karena itu perlu dikenal adanya karakteristik siswa, terutama yang terkait dengan kemampuan awal, latar-belakang dan status sosial serta perbedaan-perbedaan kepribadian. Guru dalam hal ini perlu mengetahui data pribadi siswa untuk kepentinagn belajar siswa. Cara yang ditempuh untuk mengetahui data pribadi siswa itu misalnya dengan menggunakan berbagai jenis tes, observasi, kunjungan rumah, dan angket.
            Di dalam aktifitas belajar ada beberapa prinsip yang berorientasi pada pandangan ilmu jiwa, yakni menurut pandangan ilmu jiwa lama dan pandangan ilmu jiwa modern. Menurut pandangan ilmu jiwa lama aktifitas didominasi oleh guru sedangkan menurut pandangan ilmu jiwa modern, aktifitas didominasi oleh siswa. Kemudian untuk aktifitas belajar dpat digolongkan dalam beberapa klasifikasi antara lain visual activities, oral activities, writing activities, drawing activities, motor activities, mental activities.

            Belajar memiliki banyak prinsip, antara lain, harus ada aktifitas untuk menunjukkan potensinya, perlu motivasi, keadaan siswa perlu diperhitungkan. Tujuan belajar terdiri dari instructional effects dan nurturant effects. Belajar itu untuk mendapatkan pengetahuan, penanaman konsep dan keterampilan, serta pembentukan sikap.
            Seseorang itu belajar karena berinteraksi dengan lingkungannya dalam rangka mengubah tingkah laku. Belajar dapat dikatakan sebagai upaya perubahan tingkah laku dengan serangkaian kegiatan, sperti membaca, mendengar, mengamati, meniru, dan lain sebagainya. Atau dengan kata lain belajar sebagai kegiatan psikofisik untuk menuju ke perkembangan pribadi seutuhnya. Oleh karena dalam belajar perlu adanya proses internalisasi, sehingga akan menyangkut matra kognitif, afektif, dan psikomotorik.
            Ada beberapa teori tentang belajar yakni teori menurut Ilmu Jiwa Daya, Ilmu Jiwa Gestalt dan Ilmu Jiwa Asosiasi. Dalam ilmu jiwa asosiasi itu ada dua teori yang sangat terkenal yaitu konektionisme dan Conditioning. Dari berbagai teori yang kelihatannya berbeda, sebenaranya ada persamannnya yang tercermin pada prinsip umum, bahwa belajar itu ada motivasi, pengakuan adanya kesulitan atau hambatan, perlu adanya aktifitas, dan memerlukan berbagai respon.
            Sepuluh kompetensi guru adalah modal bagi guru untuk melaksakan pengelolaan interaksi belajar-mengajar. Sepuluh kompetensi guru terdiri dari menguasai bahan, mengelola program belajar-mengajar, mengelola kelas, menggunakan media atau sumber, menguasai landasan keperndidikan, mengelola interaksi belajar-mengajar, menilai prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran, mengenal fungsi dan program layanan bimbingan dan penyuluhan, mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah, memahami prinsip-prinsip dan hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran.
            Kemudian operasionalisasinya dalam melakukan interaksi belajar-mengajar guru juga harus memahami dan dapat melaksanakan item-item keterampilan mengajar. Untuk itu perlu mengadakan microteaching, sebagai program latihan mengelola interaksi belajar-mengajar.
           

            Keterampilan-keterampilan mengajar secara garis besar dapat diklasifikasikan dalam tiga kelompok sesuai dengan lembar-lembar dalam kegiatan microteaching:
1.      Aspek materi, terdiri dari item-item:
a.       Interes
b.      Titik pusat
c.       Rantai kognitif
d.      Kontak
e.       Penutup
2.      Modal kesiapan, terdiri dari item-item:
a.       Gerak
b.      Suara
c.       Titik perhatian
d.      Variasi media
e.       Variasi interaksi
f.       Isyarat
g.      Waktu selang
3.      Keterampilan operasional, terdiri dari item-item:
a.       Membuka pelajaran
b.      Mendorong dan melibatkan siswa
c.       Mengajukan pertanyaan
d.      Menggunakan isyarat nonverbal
e.       Menanggapi siswa
f.       Menggunakan waktu
g.      Menutup pelajaran
Untuk merealisasikan proses pembelajaran, pendekatan kontekstual tepat untuk diterapkan. Guru harus berusaha mengaikan materi ajar dengan dunia nyata. Prinsip inkuiri dan CSBA menjadi penting. Belajar diartikan suatu perubahan tingkah laku karena hasil dari pengalaman yang diperoleh. Mengajar diartikan kegiatan penyediaan kondisi yang merangsang dan mengarahkan siswa belajar untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang dapat membawa perubahan tingkah laku dan kesadaran diri sebagai pribadi.
 

4. Tugas Khutbah Jum’at

BERSYUKUR SEBAGAI PUJIAN KEPADA ALLAH SWT

الحمد لله ربِّ العالمين والْعاقِبَةُ لِلْمُتَّقين ولا عُدْوانَ إلَّا عَلى الظَّالمِين وأشهد أنْ لا إله إلاالله وحده لا شريك له ربَّ الْعالمين وإلَهَ المُرْسلين وقَيُّوْمَ السَّمواتِ والأَرَضِين وأشهد أن محمدا عبده ورسوله المبعوثُ بالكتابِ المُبين الفارِقِ بَيْنَ الهُدى والضَّلالِ والْغَيِّ والرَّشادِ والشَّكِّ وَالْيَقِين والصَّلاةُ والسَّلامُ عَلى حَبِْيبِنا و شَفِيْعِنا مُحمَّدٍ سَيِّدِ المُرْسلين و إمامِ المهتَدين و قائِدِ المجاهدين وعلى آله وصحبه أجمعين

فياأيها المسلمون أوصيكم وإياي بتقوى الله عز وجل والتَّمَسُّكِ بهذا الدِّين تَمَسُّكًا قَوِيًّا. فقال الله تعالى في كتابه الكريم، أعوذ بالله من الشيطان الرجيم “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ،

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا


Hadirin jemaah Jum’at yang dirahmati Allah,
            Bersyukur kapada Allah SWT bagi orang yang beriman adalah sebuah keharusan. Bukankah setiaap saat, setiap menit, bahkan setiap detik, kita selalu mengonsumsi dan menikmati fasilitas dan anugerah Allah SWT. Tanpa anugerah dan fasilitas dari Allah, dapatkah jantung kita berdetak, darah kita mengalir, mata kita melihat, telinga kita mendengar? Betapa besar nikmat Allah. Seandainya, kita mencoba dan menghitung anugerah dan nikmat Allah, niscaya kita akan kehabisan angka dan kemampuan karena nikmat dan anugerah Allah itu tak terhingga banyaknya.
            Syukur adalah ungkapan rasa terima kasih atas nikmat yang diterima, baik lisan, tangan, maupun hati. Ada yang mangatakan bahwa syukur adalah pujian kepada orang yng berbuat baik dengan menyebutkan kebaikannya. Jika dikatakan, “Seseorang bersyukur kepada Allah”, berarti dia memujinya dengan menyebutkan kebaikan-Nya, yang berupa nikmat. Dalam masalah syukur, ada tiga persoalan, yaitu hakikat syukur, pembagian syukur, dan tanda-tanda orang yang bersyukur.
            Hakikat syukur adalah mengakui nikmat Allah karena Dialah pemilik karunia dan pemberian sehingga hati mengakui bahwa segala nikmat berasal dari Allah SWT. Kemudian, anggota badannya tunduk kepada Pemberi nikmat tersebut. Yang dimaksud tunduk adalah menaati dan patuh karena sesorang tidak disebut tunduk, kecuali jika menaati perintah Allah dan patuh kepada syariat-Nya. dengan demikian, syukur merupakan pekerjaan hati dan anggota badan.
            Hadirin yang dirahmati Allah,
            Syukur terbagi menjadi tiga macam, yaitu syukur dengan lisan, syukur dengan anggota badan, dan syukur dengan hati. Syukur dengan lisan, yaitu mengakui adanya nikmat dan merasa tenang. Syukur ini mengungkapkan dan membicarakan nikmat Allah dengan cara tunduk, merendah, dan merasa hina. Lisan itu mengakui bahwa nikmat itu berasal dari Allah dan tidak menyandarkannya kepada makhluk atau kepada diri, daya, kekuatan, atau usaha sendiri. Tidak pula disandarkan kepada orang lain yang melakukan dengan tangannya, karena semuanya adalah perantara, alat dan sarana kepadanya. Penentu, pelaksana, pengada, dan penyebabnya hanyalah Allah SWT. Allah-lah yang menentukan dan menjalankan, sehingga Dia lebih berhak untuk disyukuri dari selain-Nya.
            Syukur dengan badan dan anggota badan, yaitu dengan cara melaksakan dan pengabdian. Syukur ini mengharuskan pengabdian dan pelaksaan perintah serta menjauhkan diri dari larangan. Bersyukur dengan anggota badan menggerakkan dan menggunakannya untuk ketaan kepada Allah, bukan untuk selain-Nya. anggota badan tidak mengikuti panggilan untuk menentang Allah. Hal ini juga termasuk jiwa, hawa nafsu, keinginan, atau cita-cita yang menjadikan ketaatan kepada Allah sebagai dasar yang diikuti dan pemimpin.
            Syukur dengan hati, yaitu berdiam atas Allah dengan senantiasa menjaga hak Allah yang wajib dikerjakan. Syukur hati merupakan pengkuan dari dalam bahwa semua nikmat adalah berasal dari Allah semata, sebuah ungkapan dari apa yang ada dalam hati. Keyakinan bahwa semua  nikmat, manfaat, atau kesenangan, baik lahir maupun batin, gerakan maupun diam, bersumber dari Allah SWT, bukan selain-Nya.
            Selanjutnya, tanda-tanda orang yang bersyukur dibangun pada lima kaidah dasar.
1.      Ketundukan orang yang bersyukur kepada Zat yang memberi nikmat, yaitu Allah SWT.
2.      Lecintaannya kepada Allah yang telah memberinya karunia.
3.      Pengkuannya terhadap nikmat Allah atasa dirinya.
4.      Pujiannya terhadap Allah.
5.      Tidak menggunakan nikmat itu dalam hal yang dimakruhkan, lebih-lebih yang diharamkan.

Hadirin yang dirahmati Allah,
Kesimpulannya adalah hakikat syukur tampak jelas pada lisan seorang hamba dengan memuji, pengkuan dalam hatinya dengan kesaksian dan kecintaan, serta anggota badannya tumbuh ketaatan dan kepatuhan kepada Allah SWT.


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَقُلْ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}
ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. وَأَقِمِ الصَّلاَةَ
           






           

kumpulan makalah SPI

PENDAHULUAN Apa yang anda ketahui tentang Cirebon? tentunya banyak sekali bukan? Atau justru anda belum mengetahui apapun tentang apa y...