Apa
yang anda ketahui tentang Cirebon? tentunya banyak sekali bukan? Atau justru
anda belum mengetahui apapun tentang apa yang ada di dalamnya? Kalau begitu,
mari saya perkenalkan kepada anda semua bagaimana sejarah kota ini. Mengapa
kota ini bisa disebut sebagai kota Wali dan peristiwa apa saja yang terjadi
pada zaman dulu hingga Cirebon dinobatkan sebagai Kota Pertama yang menyebarkan
Agama Islam di Jawa Barat.
Setiap
kota pasti memiliki sejarah dan keunikan masaing-masing, begitu pula dengan
Cirebon. Berbicara tentang sejarah maka tidak akan lepas dari peranan nenek
moyang kita, baik itu dari segi pendidikan, struktur sosial, budaya, serta
sikap dan perilaku-perilakunya. Dan semua itu patut kita contoh sebagai pedoman
perilaku untuk masa depan. Belajar dari
sejarah maka akan berbuat bijak di hari kemudian.
Kota
Cirebon, selain disebut sebagai Kota Wali nya pun, ada juga kuliner khas
Cirebon yang terkenal hingga keluar manca negara. Sebut saja seperti Nasi
Jamblang, Nasi Lengko, Empal Gentong, dan masih banyak lagi. Juga, tak kalah
menarik dan terkenal pula budayanya yaitu Tari Topeng, Lukisan Kaca, Batik,
Sintren, dan lain sebagainya. Namun dalam artikel ini, saya tidak akan membahas
kearah sana, tetapi lebih memfokuskan kepada Sejarah Raden Walangsungsang, Sunan
Gunung Jati dan bagaimana terbentuknya Kota Cirebon ini.
Kalau
begitu, mari kita jelajahi kota Cirebon tercinta ini. Baca dan pahami dengan
teliti, saya akan mengajak anda keliling Jawa Barat bahkan hingga ke Mesir.
Menulis artikel ini mengingatkan saya akan perkataan Bung Karno yang mengatakan
“Jangan sekali-kali melupakan Jas Merah!”. Selamat membaca. Salam Humaniora.
PEMBAHASAN
GUNUNG
JATI SEBAGAI PANGGURON ISLAM
Pada
permulaan abad ke XV Agama Islam sudah berkembang di Pulau Jawa, terutama di
Gresik Jawa Timur. Maulana Malik Ibrahim membuka pesantren bagi siapa saja yang
berminat mempelajari Agama Islam. Para santri yang datang sebagian besar dari
daerah sekitarnya dan hanya sedikit bagian mereka yang datang dari Jawa Barat
yang pada masa itu di bawah kekuasaan Kerajaan Padjajaran. Sedangkan Gunung
Jati termasuk wilayah negeri atau daerah Singapura (Celancang), bawahan
Padjajaran. Karena letaknya di tepi Pelabuhan Muara Jati, maka banyaklah
pedagang-pedagang asing yang datang kesitu, baik pedagang China, Arab, maupun
Gujarat atau pantai barat India. Ramainya perahu dagang asing yang berlabuh di
pelabuhan Muara Jati itu karena selain letaknya yang setrategis bagi perniagaan
juga karena penguasa negerinya Ki Gede Surawijaya dengan Syahbandarnya yang
bernama Ki Gede Tapa atau Ki Jumatan Jati yang bersikap toleran terhadap setiap
pedagang asing. Alhasil pada masa itu sedang mengalami pergolakan disebabkan
ramainya penduduk yang berangsur-angsur masuk agama Islam.
Seperti kita ketahui bahwa pedagang
asing yang berasal dari Arab dan Gujarat ini selain sebagai pedagang, mereka
juga sebagai muballigh yang sengaja membawa ajaran Islam ke seluruh penjuru
dunia, khususnya Asia Tenggara. Maka pada sekitar tahun 1420 M datanglah
serombongan pedagang dari Baghdad yang dipimpin oleh Syekh Idlofi Mahdi memohon
agar di perkenankan menetap di perkampungan sekitar Muara Jati dengan alasan
untuk memperlancar dagangnya. Oleh Ki Surawijaya rombongan Syekh Idlofi itu
diizinkan tinggal di kampung Pasambangan dimana terdapat Gunung Jati. Sejak
itulah dia memulai kegiatannya berdakwah mengajak penduduk serta teman-teman
dekatnya mengenal Islam. Bagi sebagian orang yang telah mendengar tentang agama
baru it uterus saja mendatangi dan menyatakan diri masuk Islam atas ketulusan
hatinya. Maka untuk ketenangan mereka yang ingin mempelajari Islam lebih dalam,
Syekh Idlofi diperkenankan mengambil tempat di Gunung Jati untuk kegiatan
dakwahnya. Itulah awal mula Gunung Jati sebagai Pangguron Islam.
Dengan caranya yang sangat bijaksana
dan penuh hikmah dalam menyampaikan dan mengajak orang masuk Islam, maka pada
waktu yang singkat Pangguron Islam Gunung Jati sudah di dengar sampai ke pusat
Kerajaan Padjajaran. Demikian itu karena suatu hari Syekh Idlofi kedatangan
Raden Walangsungsang dan adiknya Ratu Rarasantang serta istrinya Nyi Endang
Geulis yang bermaksud ingin mempelajari agama Islam. Raden Walangsungsang dan
ratu Rarasantang keduanya adalah putra putrid Raja Padjajaran Raden Pamanarasa
yang bergelar Prabu Siliwangi dari perkawinannya Nyi Mas SubangLarang purti Ki
Jumanan Jati yang pada waktu itu sedang belajar di Pangguron Islam Syekh Quro
Karawang. Jadi keduanya sebagai cucu Syahbandar Pelabuhan Muara Jati.
Kedatangannya di Pangguron Gunung Jati tidak seizin ayahnya, karena Prabu
Siliwangi kembali ke agama Budha setelah Nyi SubangLarang meninggal dunia.
Sedangkan kedua putra putrid itu sudah dididik dan diberi petunjuk oleh
mendiang ibunya agar memperdalam agama Islam di Pangguron Gunung Jati semasa
keduanya masih anak-anak.
Dengan kehadiran keluarga Keraton
Padjajaran ini semakin giatlah Syekh Idlofi dalam berjuang mengembangkan agama
Allah dan semakin syiar pula nama Pangguron Islam Gunung Jati. Kegiatan
dagangnya sudah diserahkan ke beberapa bagian temannya, karena seluruh waktunya
sudah dicurahkan untuk berjuang di jalan Allah SWT. Satu kebiasaan yang
dilakukan Syekh Idlofi di luar waktu dakwah dan selalu diperhatikan oleh
santri-santrinya ialah tafakkur menyendiri di satu tempat seperti Gua di puncak
Gunung Jati. Karena itulah para santri memenggilnya dengan nama “Syekh Dzatul
Kahfi” artinya “sesepuh yang mendiami gua”.
Selain dari sebutan itu karena
bersinar atau bersinarnya Gunung Jati di luar daerah disebabkan kemuliaan
takwanya kepada Allah SWT hingga masyarakat kampung Pasambangan menyebutnya
“Syekh Nur Jati” artinya “Sesepuh yang menyinari atau yang menyiarkan Gunung
Jati”. Berkenaan dengan itu beliau senantiasa mengamati setiap santri yang akan
meninggalkan Pangguron dengan perkataan “Settana” yang artinya Pegang teguhlah
semua ajaran yang didapat dari Pangguron Islam Gunung Jati dan jangan sampai
lepas. Sejak itu tiap orang yang akan dan dari Pangguron gunung Jati mengatakan
dan menamai kampung Pasambangan itu dengan nama “Settana Gunung jati”. Namun
pada akhirnya Gunung Jati itu digunakan untuk pemakaman, terutama makam Syekh
Dzatul kahfi itu sendiri, maka oleh penduduk Jawa Barat yang sebagian besar
berbahasa Sunda sebutan Settana diganti Astana yang artinya kuburan. Walaupun
demikian penduduk daerah jawa Barat yag berbahasa Jawa masih banyak yang
menyebutkan settana, seperti penduduk asli Cirebon, Indramayu, dan Losari.
Demikianlah maka kampung Pasambangan
yang mencakup sekitar Gunung Jati sampai sekarang dinamakan Kampung atau Desa
Astana Gunung Jati. Letaknya kira-kira 12 kilometer arah ke utara dari Terminal
Bus Bypass Cirebon. Termasuk wilayah kecamatan Cirebon Utara Kabupaten DT. II
Cirebon. luas wilayahnya kuranglebih 36.350 ha terdiri dari 23.010 ha Tanah
Desa dan 13.340 ha Tanah Merdeka atau Tanah Keraton. Pada tahun 1987
penduduknya berjumlah 4279 jiwa. Sekitar Komplek Gunung Jati tempat
dimakamkannya Guru atau Muballigh Syekh Dzatul Kahfi dipimpin oleh Guru Kunci
atas perintah Sultan Cirebon. Selain makam Syekh Dzatul Kahfi yang ada diatas
bukit, Gunung Jati digunakan juga sebagai pemakaman umum penduduk desa.
PERTAMANAN
GUNUNG SEMBUNG
Setelah beberapa tahun Raden
Walangsungsang bersama adik dan istrinya berguru kepada Syekh Dzatul Kahfi di
Pangguron Islam Gunung Jati serta dinyatakan telah memiliki keteguhan iman, dia
diperintahkan agar membuka hutan untuk dibabad itu berada di bagian Selatan
Gunung Jati. Maka dengan semangat dan ketekunannya Raden Walangsungsang dapat
menyelesaikannya dalam beberapa hari. Setelah selesai pendukuhan itu diberi
nama Tegal Alang-Alang dan Raden Walangsungsang dipilih sebagai kepala dukuh
dengan gelar Ki Kuwu. Bersamaan dengan itu pula Raden Walangsungsang dijuluki
Pangeran Cakrabuana.
Dengan bekal kearifan dan kerja sama yang baik dengan warganya
dalam segala bidang, Pnageran cakrabuana berhasil mempercepat laju perekonomian
Tegal Alang-Alang sehingga banyak pedagang asing dari beberapa bangsa dan ras
yang berpasaran disitu. Karena percampuran bangsa yang berlainanan watna kulit
yang berbeda agama serta kepercayaan itu, maka banyak pendatang yang menamakan
pendukuhan Tegal Alang-Alang itu sebagai caruban (pertautan). Di samping itu
karena sebagian besar warganya bekerja sebagai pencari ikan dan membuat petis
dari air udang atau bahasa sundanya cai rebon, maka masyarakat menyebutnya
Cirebon sampai sekarang.
Di tempat kesibukannya memimpin
pendukuhan Cirebon yang laju semakin pesat itu Pangeran Cakrabuana diperintah
oleh gurunya Syekh Dzatul Kahfi agar menunaikan ibadah haji bersama adiknya Nyi
Ratu Rarasantang. Sedangkan istrinya diperintahkan untuk tinggal di rumah berkenaan
dengan kandungannya yang sudah mendekati masanya. Sedangkan untuk mennggatikan
kepemimpinan Pedukuhan Cirebon, beliau menunjuk Ki Penggalang Alang atau
disebut juga Ki Danusela. Dengan kapal dagang asing yang menuju ke tanah Arab,
berangkatlah Pangeran Cakrabuana bersama adiknya Ratu Rarasantang.
Di kota Suci Mekkah kedua kakak
beradik itu bermukim beberapa bulan di rumah Syekh Bayanillah sambil menambah
Ilmu Agama Islam. Disinilah terjadi peristiwa penting, yaitu dinikahinya Ratu
Rarasantang oleh seorang pembesar kota Isma’iliyah bernama Syarif Abdillah bin
Nurul Alim dari suku Bani Hasyim. Pada masa itu pusat pemerintahan Islam berada
di Turki (Istanbul). Dan untuk lebih dekatnya dengan lingkungan, maka Syarif
Abdillah mengganti nama Rarasantang dengan nama Syarifah Muda’im. Dari
perkawinan itu kemudian dikaruniai dua orang putera, masing-masing Syarif
Hidayatullah dan Syarif Nurullah.
Kuranglebih tiga bulan setelah
kelahiran keponakannya itu, Pangeran Cakrabuana berpamit untuk kembali ke tanah
Jawa Caruban. Dalam perjalanan pulang itu, Pangeran Cakrabuana mampir di negeri
Cempa (wilayah Kampuchea) dengan maksud agar berguru pula, keran disana ada
seorang ulama yang berasal dari Arab, yaitu Syekh Maulana Ibrahim Akbar. Tetapi
tidak lama karena rindu akan bayi yang sudah lahir, Pangeran Cakrabuana
meneruskan perjalanannya pulang dengan disertai seorang puteri Cempa yang ingin
berguru di Tanah Jawa, khususnya di Cirebon.
Sesampainya di Caruban sekitar tahun
1456, Pangeran Cakrabuana merasa kagum atas majunya pedukuhan Caruban
sepeninggalnya di Kota Mekkah. Terutama pasaran produksi petis dan terasinya
yag telah banyak dikirim ke seluruh Kerajaan Padjajaran. Maka bersamaan dengan
diserahkannya kembali jabatan Kuwu dari Ki Penggalang Alang kepada Pangeran
Cakrabuana, Padukuhan Caruban ditingkatkan menjadi sebuah negeri dengan nama
Nagari Caruban Larang sekaligus membentuk pemeritahannya.
Karena baru pertama kali ada negeri
yang menggunakan pola pemerintahan Islam di wilayah padjajaran, maka berita
tentang jadinta Nagari Caruban Larang begitu cepat terdengar dan mengejutkan
negeri-negeri lainnya bahkan sampai ke pusat Kerajaan Padjajaran. Kendati
sedikit kurang berkenan di hati Prabu Siliwangi akan berdirinya negeri yang
berhaluan Islam ini, namun karena pendirinya adalah anaknya sendiri, maka Sang
Prabu memberinya gelar Sri Manggana. Pada saat meresmikan negeri itu,
kehadirannya memenuhi undangan sang putera disertai dengan Raden Jaka Sengara
adik Pangeran Cakrabuana yang pada akhirnya menetap juga di Caruban karena
tertarik dengan Agama Islam.
Guna mengimbangi kemajuan Nageri
Caruban yang kian pesat Pangeran Cakrabuana terus membenahi sarana-sarana
pemerintahnnya. Untuk itu ia membangun Istana Negeri yang diberi nama Istana
PakungWati, nama putrinya sendiri yang lahir ketika ia masih di Tanah Suci
Mekkah. Selain itu untuk kunjungan tetapnya ke Syekh Dzatul Kahfi di Guung
Jati, dibangun pula tempat peristirahatan atau petamanan Gunung Sembung,
terletak di sebelah barat Gunung Jati. Di pertamanan Gunung Sembung itu
dilengkapi dengan kolam pemandian di bagian selatan dan balai
peristirahatannya. Dalam membangun pertmanan ini, Pangeran Cakrabuana teringat
akan tanah pasir yang pernah ia injak di suatu daerah semasa dalam perjalanan
pulang dari Mekkah, yang seperti celak mata dan terdapat di daerah Malela
bagian dari Cempa. Untuk itu mengutus beberapa orang yang dikawal oleh Nyai
Ratu Cempa dengan sebuah perahu dagang guna mengangkut beberapa gunduk sekedar
melapisi bagian bukit Gunung Sembung.
Hingga sekarang tanah pasir yang ada
di puncak gunung Sembung itu dinamai Pasir Malela yang tidak boleh berpindah
tempat atau terbawa sedikitpun. Bahkan telapak kaki juru kunci yang bertugas
disana juga harus membersihkan setiap akan turun, dengan maksud agar tidak
membawa pasir itu. Hal ini mungkin karena pada waktu mengangkutnya teramat
susah dan banyak melibatkan pihak lain sehingga Pangeran Cakrabuana wanti-wanti
kepada pengurusnya agar menjaga Pasir Malela ini.
Sebagaimana halnya Pangguron Gunung
Jati, pada akhirnya pertamanan Gunung Sembung pun dijadikan tempat kediaman
terakhir atau tempat pemakaman pendirinya Pangeran Cakrabuana dan juga segenap
keturunannya sampai sekarang. Jarak antara Gunung Jati dengan Gunung Sembung
sekitar kurang lebih 200 meter masih dalam wilayah Desa Astana. Disitulah terdapat
makam Sunan Gunung Jati yang setiap hari dijaga oleh 12 orang juru kunci
berpakaian kain dan ikat kepala dengan tugas masing-masing sesuai dengan jenjang
kepangkatannya. Secara umum mereka bertugas menjaga dan memelihara makam Sunan
Gunung Jati dan keturunannya serta benda-benda yang ada disekitarnya yang
termasuk komplek permakaman.
SUNAN
GUNUNG JATI BUKAN FATAHILLAH
Ulama-ulama
yang digurui oleh Syarif Hidayatullah adalah Syekh Tajmuddin al Kubro dan Syekh
Ataillah Syadzali. Selain ilmu-ilmu agama dan sosial, beliau pun mempelajari
Ilmu Tasawuf dari Ulama-Ulama Baghdad. Pada saat Syarif Hidayatullah berusia
dua puluh tahun, Syarif Abdillah meninggal dunia. Maka sebagai putera yang
tertua Syarif Hidayatullah ditunjuk untuk menggantikannya memerintah kota
Isma’illiyah. Akan tetapi karena dia sudah bertekad untuk melaksanakan harapan
ibunya, yaitu menjadi muballigh di Caruban, maka dia melimpahkan jabatan itu
kepada adiknya Syarif Nurullah.
Beberapa
bulan setelah pengangkatan Syarif Nurullah sebagai penguasa kota Isma’illiyah,
ibunya Syarif Muda’im meninggalkannya untuk pulang ke Tanah Jawa bersama Syarif
Hidayatullah. Dalam perjalanan pulangnya, ibu dan anak tersebut beberapa kali
singgah di beberapa daerah dengan waktu yang tidak menentu. Seperti di Mekkah,
Gujarat, dan Pasai. Dan sekitar tahun 1475 keduanya baru sampai di Caruban.
Dapatlah digambarkan bagaimana suasana di Istana Pakungwati Nagari Caruban itu
saat menyambut kedatangan Syarifah Muda’im dan anaknya.
Pada
masa itu Syekh Dzatul Kahfi telah wafat dan dimakamkan di tempat perguruannya
itu. maka dengan alasan agar selalu dekat dengan makam gurunya. Syarifah
Muda’im mohon untuk tinggal saja di kampung Pasambangan bersama putranya Syarif
Hidayatullah. Oleh Pangeran Cakrabuana keduanya diperkenankan untuk tinggal di
pertamanan Gunung Sembung sambil mengajarkan Agama islam sebagai penerus
Pangguron Islam Gunung Jati. Disaat yang sudah ditentukan dan sesuai dengan
yang sudah direncanakan, Pangeran Cakrabuana menikahkan Syarif Hidayatullah
dengan putrinya Nyi Ratu Pakungwati. Selanjutnya pada ahun 1479, karena usianya
yang semakin lanjut Pangeran Cakrabuana mengalihkan kekuasannnya atas Negari
Caruban kepada menantu yang juga keponakannya, Syarif Hidayatullah dengan gelar
Susuhunan atau Sunan.
Pada
tahun pertama pengangkatannya beliau berkunjung ke Padjajaran guna
memperkenalkan diri dan sungkem kepada eyangnya serta mengajaknya kembali ke
agama Nabi. Tetapi Prabu Siliwangi tidak menyambut baik ajakan itu. meskipun
demikian tidak menghalangi cucunya itu mengembangkan agama Islam di wilayah
Padjajaran. Karena itu Syarif Hidayatullah melanjutkan perjalanannya menuju ke
daerah Serang yang sebagian rakyatnya sudah sering mendengar tentang Islam dari
pedagang-pedagang Arab dan Gujarat yang berlabuh di Kabupaten Banten.
Ternyat
disana mendapat sambutan baik dari Adipati Banten, hingga untuk kelancaran
dakwahnya beliau diperkenankan menikah dengan putrinya yang bernama Nyi Ratu
Kawunganten. Darinya beliau dikaruniai dua orang putra yang bernama Nyi Ratu
Winaon dan Pangeran Sabakingking. Berita tentang tampilnya seorang Muballigh
asal Kota Isma’illiyah sebagai pemimpin Nagari Caruban initerdengar oleh Demak
yang baru setahun berdiri sebagai KErajaan Islam pertama Di Pulau Jawa di bawah
kekuasaan Raden Fatah yang bergelar Sultan. Tepatnya pada tahun 1478 Demak
berdiri, setelah Raden fatah berhasil menumbangkan kekuasaan Prabu
Girindrawardhana atas Majapahit yang bergelar Brawijaya VII.
Demi
mendengar bahwa di wilayah Padjajaran Agama Islam berkembang pesat setelah
Nagari Caruban dipimpin oleh Syarif Hidayatullah. Maka Raden Fatah bersama-sama
para Muballigh lainnya yang kesemuanya sudah bergelar Sunan menetapkan bahwa
Syarif Hidayatullah penguasa Nagari caruban sebagai Penetap Panata Gama Rasul
di tanah Pasundan, artiya yang ditetapkan sebagai pemimpin penyiaran agama Nabi
Muhammad SAW di wilayah Jawa bagian Barat. Lebih dari itu pada saat Syarif
Hidayatullah menghadiri undangan musyawarah para Sunan dalam menyusun strategi
pengembangan Islam di Jawa serta rencana untuk membangun Masjid Agung Demak,
beliau ditetapkan juga sebagai Sunan Cirebon dengan gelar Sunan Gunung Jati.
Bermula disini pula terbentuklah siding Dewan Wali Sembilan.[1]
Wali
Sanga itu terdiri dari:
1. Maulana
Raden Rahmat: Sunan Ampel (Surabaya)
2. Maulana
Makdum Ibrahim: Sunan Bonang (Tuban)
3. Maulana
Raden Paku: Sunan Giri (Gresik)
4. Maulana
Syarifuddin: Sunan Drajat (Sedayu)
5. Maulana
Ja’far Shodiq: Sunan Kudus (Kudus)
6. Maulana
Raden Syahid: Sunan Kalijaga (Kadidangu)
7. Maulana
Raden Prawata: Sunan Muria (Kudus)
8. Maulana
Malik Ibrahim: Sunan Gresik (Gresik)
9. Maulana
Syarif Hidayatullah: Sunan Gunung Jati (Cirebon)
Dengan
terbentuknya Wali Sanga ini, maka terjadilah rasa sepenanggungan dalam
menegakkan Agama Islam di tanah Jawa. Karenanya sebagai tindak lanjut dari
permusyawaratan itu, Raden Fatah menyarankan agara Caruban sekalian dijadikan
Kesultanan yang tidak lagi yang harus menghaturkan bulubekti (upeti) kepada Padjajaran
yang disalurkan lewat Kadipaten Galuh. Hal ini dimakduskan untuk mempercepat
perkembangan Islam ke kadipate-kadipaten di wilayah itu. dan sekembali dari
Demak kesekian kalinya, dengan bantuan serta dukungan sepenuhnya dari Raden
Fatah, berdirilah Kesultanan Pakungwati dengan Syarif Hidayatullah sebagai
Sultan yang pertama.
Tindakan
Cirebon yang demikian itu jelas sebagai tentangan bagi Padjajaran sebab
dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap negeri-negeri lainnya. Olleh sebab itu
tidak peduli siapa yang duduk di Kesultanan Cirebon itu, Prabu Siliwangi
menurunkan satu angkatan yang di pimpin oleh Temenggung Jayabaya untuk menagkap
cucunya itu. tetapi dengan segala kemungkinan yang bakal terjadi telah
diperhitungkan dengan matang oleh Sunan Gunung Jati, maka sepasukan dari
Padjajaran itu tidak sampai berbuat banyak. Mereka yang hanya berjumlah sekitar
enam puluh orang berikut dengan Temenggung Jayabaya akhirnya menyerah dan tidak
kembali ke Padjajaran. Dan apabila telah datang pertolongan Allah dengan
kemenangan itu, banyaklah yang lainnya menyusul menyatakan diri masuk Islam.
Dengan
bertambahnya beberapa orang dari Padjajaran, semakin besarlah pengaruh Cirebon
tehadap wilayah-wilayah yang ada di Padjajaran. Seperti Surantaka, Japura,
Wanagiri, Galuh, Talaga, dan negeri asal Pedukuhan Caruban, Singapura yang
telah melebur diri menjadi wilayah Kesultanan Cirebon. Lebih-lebih dengan
diperluasnya Muara Jati jelas menambah ramainya perdagangan antar nusa sampai
ke Manca Negara. Bahkan yang terbanyak di antara pedagang asing adalah dari
Tiongkok yang kebanyakan membawa barang-barang hiasan dari keramik atau
porselin.
Membanjirnya
pedagang Tiongkok di Cirebon ini setelah adanya pembauran melalui perkawinan
antara kakak Ki Gede Tapa, Nyi Rara Rudra dengan seorang saudagar Tiongkok Ma
Huang yang kemudian dialihkan jadi Ki Dampu Awang. Dari Ki Dampu Awang inilah
kaisar Tiongkok mendengar bahwa Sunan Gunung Jati Syarif Hidayatullah adalah
keturunan bangsawan Arab. Oleh sebab itu ia mengizinkan anak puterinya dibawa
oleh Ki Dampu Awang dan dinikahkannya Sunan GunungJati demi keuntungan
bangsanya dalam menjalin hubungan dagang di masa-masa sterusnya. Putrid Kaisar
Tiongkok ini bernama Ong Tien yang kemudian diganti dengan nama Nyi Ratu Rara
Sumanding. Dari putri Tiongkok inilah Keraton Pakungwati mengalami perluasan
yang banyak menggunakan hiasan dinding dari porselin buatan Tiongkok.
Pernikahan Sunan Gunung Jati dengan putrid Ong Tien ini sebagai istri ketiga berlangsung pada sekitar
tahun 1481. Setahun setelah pembangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon.
Masjid
Agung Sang Cipta Rasa dibangun pada tahun 1480 atasa prakarsa Nyi Ratu
Pakungwati dengan dibantu oleh Walisanga dan beberapa tenaga ahli yang dikirim
Raden Fatah. Dalam pembangunan masjid itu, Sunan Kalijaga mendapat penghormatan
untuk mendirikan Sokoguru yang dari kepingan-kepingan kayu disusun menjadi
sebuah tiang dan dinamakan Sakatatal. Selesai Masjid Agung, pembangunan
diteruskan ke jalan-jalan raya yang menuju negeri tetangga sambil menyertakan
pembangunan di bidang mental memperluas pengembangan Islam ke seluruh negeri
Pasundan. Sementara raja Padajajaran hanya bisa menahan diri meski dalam
hatinya sudah sangat cemas karena pengaruh Cirebon yang sudah mendekati pusat
pemerintahan pakuan Padjajaran. Namun demikian, sejanak kadang-kadang Prabu
Siliwangi merasa bangga demi menyaksikan keberhasilan anak cucunya hingga dapat
menguasai sepanjang pantai utara Pasundan. Sikap itulah yang diambil oleh
Pangeran Cakrabuana dan dimanfaatkannya selaku penasihat Sultan untuk membenahi
wilayah Negeri dan pengembangan Islam.
Sunan
Gunung Jati mengambil istri lagi seorang putrid dari Ki Ageng Tepasan mantan
pembesar Majapahit yang turut dengan pasukan Demak ke Cirebon. putrid Ki Ageng
Tepasan itu bernama NYi Ageng Tepasari. Hal ini karena alasan, pertama
meninggalnya Nyi Ratu Pakungwati dalam peristiwa Memolo Masjid Agung dan kedua
karena perkawinannya dengan Nyi Ong Tien belum dikaruniai seorang anak. Dan
kenyataan pada akhirnya dari perkawinan ini dikaruniai dua orang anak, Ratu
Wulung Ayu dan Pangeran Muhammad Arifin yang kelak menggantikan ayahandanya
dengan gelar Pangeran Pasarean.
Sultan
Cirebon Syekh Syarif Hidayatullah menyelenggarakan tasyakuran bersama dengan
menikahkan Fatahillah dengan putrinya Ratu Wulung Ayu. Berkenaan dengan ini
jabatan Bupati Jayakarya secara resmi diserahkan kepada Ki Bagus Angke.
Kemudian setelah segalanya diatur dengan tertib dan usia Sultan telah lanjut,
maka sang putra Pangeran Muhammad Arifin
dinobatkan sebagai Sultan ke II dengan gelar Pangeran Pasarean. Untuk
penasihat Sultan yang masih muda ini Sunan Gunung Jati dengan persetujuan warga
kessultanan lainnya mengangkat Fatahillah dengan sebutan Ki Bagus Pasai, dan
Sultan Gunung Jati kembali ke Gunung Sembung guna menta agama Pasambangan yaitu
menjadi guru agama Islam di Pangguron Pasambangan.
Langkah
demikian yang diambil oleh Sunan Gunung Jati ini sesuai dengan apa yang telah
direncanakan sejak masih di negeri Mesir bahwa beliau ingin menjadi Pengmbang
Islam di Jawa. Namun sebaik-baik rencana manusia, rencana Tuhan lebih baik.
Pada tahun kelima pengangkatannya kuranglebih tahun 1552 Pangeran Pasarean
Sultan kedua Cirebon itu mendahului ayahandanya berpulang ke Rahmatullah.
Alhasil pada tahun itu pula sang putra Pangeran Sabakingking telah dinobatkan
sebagai Sultan Banten yang pertama dengan gelar Sultan Maulana Hasanuddin.
Dengan
wafatnya Pangeran Pasarean ini, Sunan Gunung Jati yang telah merintis
ketentraman hari tuanya dengan menata Agama di Pasambangan itu kembali
mengambil kebijaksanaan dalam tata pemerintahan Kesultanan Cirebon dengan
mengangkat Aria Kamuning sebagai Sultan Cirebon ke III dengan gelar Dipati
Cirebon I. sebelum pengangkatannya Aria Kamuning sudah menjadi menantu Ki Bagus
Pasai karena memperistri putrinya yang bernama Nyi Ratu Wanawati dan
selanjutnya menurunkan empat orang putra putrid, yaitu Nyi Ratu Ayu, Pangeran
Mas, Pangeran Manis, dan Pangeran wirasaba. Masa pemerintahan Dipati Cirebon I
kuranglebih dua belas tahun, pada tahun 1565 tahta kesultanannya diserahkan
kepada putranya yang baru berusia 18 tahun yaitu Pangeran Mas dengan gelar
Sultan Panemban Ratu I. Karena usianya yang terlalu muda, maka Sultan Panemban
Ratu I ini banyak memerlukan saran-saran dan bimbingan dari sesepuh Keraton.
Sedangkan sesepuh Keraton seperti Sunan Gunung Jati dan Ki Bagus Pasai sudah
terlalu tua untuk bersanding di Keraton. Oleh karenanya, pada masa pemerintahan
Panemban Ratu I Cirebon sedikit mengalami penurunan, terutama hal pengembangan
Agama.
Dalam
suasana keprihatinan itu, dalam tahun 1568 seluruh warga kesultanan Cirebon
berduka cita dengan berpulangnya kealam baqa Syekh Maulana Syarif Hidayatullah
Sultan Mahmud setelah genap berusia 120 tahun. Bersama ibu Syarifah Muda’im dan
paman uwaknya Pangeran Cakrabuana, beliau dikebumikan di Pertamanan Gunung
Sembung. Dan dua tahun kemudian menyusul Ki Bagus Pasai Fatahillah dimakamkan di
tempat yang sama. Demikianlah sekilas tentang riwayat kedua tokoh,
mudah-mudahan bisa dimaklumi bahwa Sunan Gunung Jati adalah Syarif Hidayatullah
bukan Fatahillah.
KESIMPULAN
Berdasarkan
pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa dalam hal manusia yang telah
dekat dengan Allah SWT dan menjadi kekasih-Nya, maka apapun yang dipanjatkannya
kepada Allah SWT akan selalu terkabulkan. Namun bagi seseorang yang telah
mencapai tingkat itu yang ada benaknya hanyalah Allah Yang Maha Esa. Karena itu
tidaklah sekali-kali memohon kepada-Nya perkara duniawi, sebab hubungannya
dengan perkara dunia telah terhalang oleh takwanya kepada Allah sebagaimana
hubungan manusia macam kita oleh Allah SWT senantiasa terhalang oleh dosa-soda
yang telah kita lakukan.
Beliau ditunggu kehadirannya,
disambut kedatangannya, dihormati kedudukannya, diterima baik ajakannya,
disayangkan kematiannya, dan diziarahi kuburannya, kesemuanya itu tanpa diminta
atau diusahakan. Semua penziarah atau pendo’a datang atas dorongan jiwa dan
kerelaan dirinya, karena meyakini bahwa makam yang hendak didatangi itu kuburan
seorang yang dekat dengan Allah serta berjasa besar dalam menuntun masyarakat
Tanah Jawa khususnya menuju keridhoan Allah SWT. Siapakah beliau orangnya?
Tidak lain tidak bukan, beliau adalah Syekh Syarif Hidyatullah Sunan Gunung
Jati.
DAFTAR PUSTAKA
Basyari
Hasan. 1989. Sekilas Komplek Makam Sunan
Gunung Jati dan Sekilas Riwayatnya. Cirebon. Zul Fana Cirebon.
P.S.
Sulendraningrat. 1984. Babad Tanah Sunda
Babad Cirebon. Cirebon. Terjemahan tulisan Arab pegon berbahasa Cirebon
madya. Keraton Kasepuhan.
[1]
Termasuk Wali Sanga karena sebagai perintis pengembangan Agama Islam di Jawa
meskipun pada masa terbentuknya Dewan Wali Sanga beliau sudah wafat sejak tahun
1419, sebelum berdirinya Kesultanan Demak. Seperti telah dijelaskan di bagian
terdahulu, bahwa pada sekitar tahun itu di Cirebon baru kedatangan Syekh Dzatu
Kahfi yang kemudian mendirikan Panggunan Islam Gunung Jati.
2.A. Pengertian Filsafat
Istilah
filsafat berasal dari bahasa Yunani Philoshopia,
tersusun dari kata philo yang artinya cinta dan shopos yang atinya
kebijaksanaan, dengan demikian kata philoshopia secara harfiah adalah mencintai
kebijaksanaan. Mempelajari filsafat berarti upaya manusia untuk mencari
kebijaksanaan hidup dan menjadi konsep yang bermafaat bagi peradaban manusia.
Pengertian
Filsafat menurut beberapa filsuf, antara lain Plato; tidak lain daripada
pengetahuan tentang segala yang ada. Aristoteles; menyelidiki sebab dan asas
segala benda.
Menurut
Suriasumantri, ada empat hal yang berkaitan tentang dasar-dasar filsafat ilmu,
yaitu; penalaran, logika, sumber pengetahuan, dan kriteria kebenaran.
Penalaran
maksudnya adalah kemampuan manusia untuk berpikir akan sesuatu. Manusia
memiliki kemampuan berpikir secara rasional, logis, juga sistematis dan
disampaikan dengan bahasa yang efektif dalam berkomunikasi. Logika secara umum
dibagi menjadi dua macam, yaitu logika deduktif atau formal dan logika induktif
atau material (isi). Logika deduktif adalah suatu ilmu yang mempelajari
hukum-hukum, dan hukum tersebut harus ditaati agar pola berpikirnya benar dan
mencapai kebenaran, sedangkan logika Induktif adalah suatu kesimpulan atau isi
yang bersifat boleh jadi, kadang disebut juga metode-metode Ilmiah.
Sumber
pengetahuan maksudnya adalah produk sejarah kehidupan manusia. Ada dua jenis
sumber pengetahuan, yaitu; pengetahuan yang didapat dari hasil usaha manusia
baik melalui penalaran ilmiah maupun perasaan intuisi; dan pengetahuan yang
didapat bukan dari usaha manusia, yaitu wahyu Tuhan memalui para Malaikat dan
para Nabi atau Rasul. Kriteria kebenaran disini maksudnya adalah lebih
menekankan pada benar dan salah dalam perspektif logika.
B. Filsafat
Pancasila
Filsafat
Pancasila dapat didefinisikan sebagai refleksi kritis dan rasional tentang
pancasila sebagai dasar Negara dan kenyataan budaya bangsa dengan tujuan
mendapatkan pokok-pokok pengertiannya yang mendasar dan menyeluruh. Pancasila
sebagai filsafat merupakan hasil permenungan jiwa yang mendalam yang dilakukan
oleh The Founding Fathers Indonesia, yang dituangkan dalam suatu sistem.
Sebagai filsafat,
Pancasila memiliki dasar ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Dasar-dasar Ontologis
Pancasila menunjukkan bahwa pancasila itu benar-benar ada dalam realitas dengan
identitas dan entitas yang jelas. Dasar Ontologis Pancasila mengungkap status
istilah yang digunakan, isi dan susunan sila-sila, tata hubungan, serta
kedudukannya secara filosofis.
Dasar Epistemologi
Pancasila terkait dengan sumber dasar pengetahuan Pancasila. Eksistensi
Pancasila dibangun sebagai abstraksi dan penyederhanaan terhadap realitas yang
ada dalam masyarakat Indonesia dengan lingkungan yang heterogen, multikultur,
dan multietnik dengan cara menggali nilai-nilai yang memiliki kemiripan dan
kesamaan untuk memecahkan masalah yang dihadapi bangsa Indonesia.
Dasar
Aksiologi Pancasila terkait erat dengan penelaahan atas nilai. Pancasila tidak
bisa dilepaskan dari latar belakang bangsa Indonesia, karena pancasila bukan
nilai yang ada dengan sendirinya melainkan nilai yang diciptakan oleh bangsa
Indonesia. Pancasila memiliki nilai intrinsik dan ekstrinsik atau instrumental.
Nilai intrinsik Pancasila adalah hasil perpaduan antar nilai asli milik bangsa
Indonesia dan nilai yang diambil dari budaya luar Indonesia.
Nilai
ekstrinsik atau instrumental mengandung imperatif dan menjadi arah dalam proses
mewujudkan cita-cita bangsa, harus menyesuaikan dengan sifat yang ada dalam
nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial.
Referensi : Muthahhari, M.. 1997; Tafsir, A. 2007.
Suriasumantri, 1998; Hanafi, H., 2004.
Kaelan,
2002, Filsafat Pancasila, Pandangan Hidup Bangsa Indonesia, Paradigma,
Yogyakarta.
3.
Review Buku
Interaksi
dan Motivasi Belajar Mengajar
Penulis
: Sardiman A.M.
Penerbit
: PT RajaGrafindo Persada Jakarta
Tahun
Terbit : 2003
Tebal
Halaman : 230
Manusia pada hakikatnya merupakan
makhluk individu dan sosial, yang hidupnya ditandai dengan saling interaksi.
Dari berbagai macam interaksi itu ada interaksi yang disengaja, yakni interaksi
edukatif. Secara khusus, interaksi edukatif sebagai interaksi belajar mengajar
yang berintikan pada kegiatan motivasi. Guru harus memahami tentang diri siswa
dan memahami keprofesiannya di bidang kependidikan. Untuk itu maka perlu dikaji
konsep belajar-mengajar. Tujuan dasar sebagai dasar motivasi, motivasi dan
aktivitas belajar, diri anak didik dan kependudukan guru, dan usaha mengelola
interaksi belajar-mengajar harus dipahami.
Istilah interaksi berpangkal pada
konsep komunikasi yang berarti menjadikan milik bersama atau memberitahukan
tentang pengetahuan, pikiran-pikiran, keterampilan, dan nilai. Interaksi
edukatif adalah proses interaksi yang disengaja, sadar tujuannya, yakni untuk
mengantarkan anak didik ke tingkat kedewasaannya. Interaksi edukatif memiliki
ciri-ciri sadar tujuan, ada bahan atau pesan, ada subjek didik atau pelajar,
ada guru, motode, ada situasi yang kondusif, dan ada penilaian.
Pendidikan dapat dirumuskan dari
sudut normative, karena merupakan
peristiwa yang memiliki norma-norma. Tetapi kaitannya dengan interaksi
edukatif, pendidikan dapat dirumuskan dari sudut proses teknis. Sehubungan
dengan proses teknis inilah maka secara spesifik interaksi edukatif dapat
dikatakan sebagai interaksi belajar-mengajar. Ciri-ciri interaksi
belajar-mengajar yakni memiliki tujuan, ada suatu prosedur (jalannya intraksi)
yang direncanakan, ditandai suatu garapan materi secara khusus, aktifitas, guru
sebagai pembimbing, disiplin waktu, dan penilaian.
Sebagai kegiatan yang tidak dapat
dipisahkan dari kegiatan belajar adalah kegiatan mengajar. Mengajar adalah
usaha untuk menciptakan kondisi yang kondusif agar berlangsung kegiatan belajar
yang bermakna dan optimal. Mengajar dalam hal juga menyangkut transfer of knowledge dan yang mendidik transfer of values. Dengan demikian
dapat mengoptimatisasikan kegiatan belajar mengajar yang bermakna. Ciri dari
hasil belajar yang bermakna adalah tahan lama dan asli atau otentik.
Tujuan adalah suatu rumusan hasil
yang diharapkan dari siswa setelah menyelesaikan atau memperoleh pengalaman
belajar. Tujuan ini sangat penting karena merupakan pedoman untuk mengarahkan
kegiatan belajar. Dalam tujuan pendidikan dan pengajaran dikenal adanya tujuan
akhir dan tujuan intermedier. Hal ini dijadikan dasar motivasi. Tujuan akhir
bersifat filosofis dan politis. Filosofis dan bersifat politis karena tujuan
itu ditetapkan sebagai undang-undang atau peraturan. Tujuan intermedier
relative bersifat operasional, karena akan menunjuk langkah-langkah yang dapat
dikerjakan melalui suatu proses. Tujuan pendidikan itu berjenjang, yakni yujuan
Pendidikan Nasional, Kurikuler dan Intruksional atau Pembelajaran.
Motivasi berpangkal dari kata
“motif” yang dapat diartikan daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang
untuk melakukan aktifitas-aktifitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Ada
tiga elemen dalam motivasi, yakni motivasi itu mengawali terjadinya perubahan
energy, ditandai dengan adanya feeling, dan dirangsang karena adanya tujuan.
Bentuk-bentuk motivasi dalam belajar yaitu member angka, hadiah, ego-involvement, member ulangan,
mengetahui hasil, pujian, hukuman, hasrat untuk belajar, minat.
Guru sebagai tenaga professional,
berarti pekerjaan guru itu memerlukan pendidikan lebih lanjut di dalam science dan
teknologi yang dapat digunakan sebagai perangkat dasar untuk diterapkan dalam
berbagai kegiatan demi kemaslahatan umum. Menitikberatkan pekerjaan mental
daripada manual work. Pekerjaan guru
sebagai tenaga professional ditandai juga adanya informed responsiveness dan
hasil pekerjaannya akan berkait dengan accountability. Guru yang lebih
komprehentif akan memiliki tiga tingkatan kualifikasi professional, yakni capable, innovator, dan developer.
Untuk melaksakan tugasnya dengan
professional maka guru memiliki beberapa peranan antara lain adalah sebagai
informator, organisator, motivator, fasilitator, mediator, konselor, evaluator.dalam
kaitan ini perlu diciptakan hubungan baik antara guru dan siswa, termasuk
pengembangan hubungan-hubungan secara informal dan contact-hours. Dalam melaksanakan tugasnya itu, diperlukannya kode
etik guru. Kode etik guru merupakan pedoman tingkah laku kepada peserta didik
dalam berinteraksi. Kode etik guru juga sebagai penangkal dari kecenderungan
tingkah laku guru yang akan menyeleweng.
Anak didik adalah subjek belajar,
sebab anak didik adalah sentral kegiatan dan pihak yang mempunyai tujuan. Kompenen-kompenen
yang lain adalah faktor pendukung. Jadi, yang aktif adalah anak didik. Anak
didik sebagai subjek belajar sebenarnya memiliki berbagai kebutuhan yang harus
dipenuhi misalnya kebutuhan jasmaniyah, sosial dan intelektual. Seseorang atau
khususnya siswa dapat memenuhi kebutuhan, merasa puas jika dapat memenuhi “developmental tasked”.
Siswa sebagai subjek belajar, mak
perlu dikembangkan individunya, karena yang dikatakan sebagai manusia utuh itu
adalah bersifat pesona. Sehingga dalam kegiatan belajar-mengajar perlu
dikembangkan pada pembinaan individu-individu siswa. Oleh karena itu perlu
dikenal adanya karakteristik siswa, terutama yang terkait dengan kemampuan
awal, latar-belakang dan status sosial serta perbedaan-perbedaan kepribadian.
Guru dalam hal ini perlu mengetahui data pribadi siswa untuk kepentinagn
belajar siswa. Cara yang ditempuh untuk mengetahui data pribadi siswa itu
misalnya dengan menggunakan berbagai jenis tes, observasi, kunjungan rumah, dan
angket.
Di dalam aktifitas belajar ada
beberapa prinsip yang berorientasi pada pandangan ilmu jiwa, yakni menurut
pandangan ilmu jiwa lama dan pandangan ilmu jiwa modern. Menurut pandangan ilmu
jiwa lama aktifitas didominasi oleh guru sedangkan menurut pandangan ilmu jiwa
modern, aktifitas didominasi oleh siswa. Kemudian untuk aktifitas belajar dpat
digolongkan dalam beberapa klasifikasi antara lain visual activities, oral activities, writing activities, drawing
activities, motor activities, mental activities.
Belajar memiliki banyak prinsip,
antara lain, harus ada aktifitas untuk menunjukkan potensinya, perlu motivasi,
keadaan siswa perlu diperhitungkan. Tujuan belajar terdiri dari instructional effects dan nurturant effects. Belajar itu untuk
mendapatkan pengetahuan, penanaman konsep dan keterampilan, serta pembentukan
sikap.
Seseorang itu belajar karena
berinteraksi dengan lingkungannya dalam rangka mengubah tingkah laku. Belajar
dapat dikatakan sebagai upaya perubahan tingkah laku dengan serangkaian
kegiatan, sperti membaca, mendengar, mengamati, meniru, dan lain sebagainya.
Atau dengan kata lain belajar sebagai kegiatan psikofisik untuk menuju ke
perkembangan pribadi seutuhnya. Oleh karena dalam belajar perlu adanya proses
internalisasi, sehingga akan menyangkut matra kognitif, afektif, dan
psikomotorik.
Ada beberapa teori tentang belajar
yakni teori menurut Ilmu Jiwa Daya, Ilmu Jiwa Gestalt dan Ilmu Jiwa Asosiasi.
Dalam ilmu jiwa asosiasi itu ada dua teori yang sangat terkenal yaitu konektionisme dan Conditioning. Dari berbagai teori yang kelihatannya berbeda,
sebenaranya ada persamannnya yang tercermin pada prinsip umum, bahwa belajar
itu ada motivasi, pengakuan adanya kesulitan atau hambatan, perlu adanya
aktifitas, dan memerlukan berbagai respon.
Sepuluh kompetensi guru adalah modal
bagi guru untuk melaksakan pengelolaan interaksi belajar-mengajar. Sepuluh
kompetensi guru terdiri dari menguasai bahan, mengelola program
belajar-mengajar, mengelola kelas, menggunakan media atau sumber, menguasai
landasan keperndidikan, mengelola interaksi belajar-mengajar, menilai prestasi
siswa untuk kepentingan pengajaran, mengenal fungsi dan program layanan
bimbingan dan penyuluhan, mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah,
memahami prinsip-prinsip dan hasil penelitian pendidikan guna keperluan
pengajaran.
Kemudian operasionalisasinya dalam
melakukan interaksi belajar-mengajar guru juga harus memahami dan dapat
melaksanakan item-item keterampilan mengajar. Untuk itu perlu mengadakan microteaching, sebagai program latihan
mengelola interaksi belajar-mengajar.
Keterampilan-keterampilan mengajar
secara garis besar dapat diklasifikasikan dalam tiga kelompok sesuai dengan
lembar-lembar dalam kegiatan microteaching:
1. Aspek
materi, terdiri dari item-item:
a. Interes
b. Titik
pusat
c. Rantai
kognitif
d. Kontak
e. Penutup
2. Modal
kesiapan, terdiri dari item-item:
a. Gerak
b. Suara
c. Titik
perhatian
d. Variasi
media
e. Variasi
interaksi
f. Isyarat
g. Waktu
selang
3. Keterampilan
operasional, terdiri dari item-item:
a. Membuka
pelajaran
b. Mendorong
dan melibatkan siswa
c. Mengajukan
pertanyaan
d. Menggunakan
isyarat nonverbal
e. Menanggapi
siswa
f. Menggunakan
waktu
g. Menutup
pelajaran
Untuk
merealisasikan proses pembelajaran, pendekatan kontekstual tepat untuk
diterapkan. Guru harus berusaha mengaikan materi ajar dengan dunia nyata.
Prinsip inkuiri dan CSBA menjadi penting. Belajar diartikan suatu perubahan
tingkah laku karena hasil dari pengalaman yang diperoleh. Mengajar diartikan
kegiatan penyediaan kondisi yang merangsang dan mengarahkan siswa belajar untuk
memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang dapat membawa
perubahan tingkah laku dan kesadaran diri sebagai pribadi.
4. Tugas Khutbah Jum’at
BERSYUKUR SEBAGAI
PUJIAN KEPADA ALLAH SWT
الحمد
لله ربِّ العالمين والْعاقِبَةُ لِلْمُتَّقين ولا عُدْوانَ إلَّا عَلى الظَّالمِين
وأشهد أنْ لا إله إلاالله وحده لا شريك له ربَّ الْعالمين وإلَهَ المُرْسلين
وقَيُّوْمَ السَّمواتِ والأَرَضِين وأشهد أن محمدا عبده ورسوله المبعوثُ بالكتابِ
المُبين الفارِقِ بَيْنَ الهُدى والضَّلالِ والْغَيِّ والرَّشادِ والشَّكِّ
وَالْيَقِين والصَّلاةُ والسَّلامُ عَلى حَبِْيبِنا و شَفِيْعِنا مُحمَّدٍ سَيِّدِ
المُرْسلين و إمامِ المهتَدين و قائِدِ المجاهدين وعلى آله وصحبه أجمعين
فياأيها
المسلمون أوصيكم وإياي بتقوى الله عز وجل والتَّمَسُّكِ بهذا الدِّين تَمَسُّكًا
قَوِيًّا. فقال الله تعالى في كتابه الكريم، أعوذ بالله من الشيطان الرجيم “يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ
إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ،
يَا
أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا
اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ
اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Hadirin jemaah Jum’at
yang dirahmati Allah,
Bersyukur kapada Allah SWT bagi
orang yang beriman adalah sebuah keharusan. Bukankah setiaap saat, setiap
menit, bahkan setiap detik, kita selalu mengonsumsi dan menikmati fasilitas dan
anugerah Allah SWT. Tanpa anugerah dan fasilitas dari Allah, dapatkah jantung
kita berdetak, darah kita mengalir, mata kita melihat, telinga kita mendengar?
Betapa besar nikmat Allah. Seandainya, kita mencoba dan menghitung anugerah dan
nikmat Allah, niscaya kita akan kehabisan angka dan kemampuan karena nikmat dan
anugerah Allah itu tak terhingga banyaknya.
Syukur adalah ungkapan rasa terima
kasih atas nikmat yang diterima, baik lisan, tangan, maupun hati. Ada yang
mangatakan bahwa syukur adalah pujian kepada orang yng berbuat baik dengan
menyebutkan kebaikannya. Jika dikatakan, “Seseorang bersyukur kepada Allah”,
berarti dia memujinya dengan menyebutkan kebaikan-Nya, yang berupa nikmat.
Dalam masalah syukur, ada tiga persoalan, yaitu hakikat syukur, pembagian
syukur, dan tanda-tanda orang yang bersyukur.
Hakikat syukur adalah mengakui
nikmat Allah karena Dialah pemilik karunia dan pemberian sehingga hati mengakui
bahwa segala nikmat berasal dari Allah SWT. Kemudian, anggota badannya tunduk
kepada Pemberi nikmat tersebut. Yang dimaksud tunduk adalah menaati dan patuh
karena sesorang tidak disebut tunduk, kecuali jika menaati perintah Allah dan
patuh kepada syariat-Nya. dengan demikian, syukur merupakan pekerjaan hati dan
anggota badan.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Syukur terbagi menjadi tiga macam,
yaitu syukur dengan lisan, syukur dengan anggota badan, dan syukur dengan hati.
Syukur dengan lisan, yaitu mengakui adanya nikmat dan merasa tenang. Syukur ini
mengungkapkan dan membicarakan nikmat Allah dengan cara tunduk, merendah, dan
merasa hina. Lisan itu mengakui bahwa nikmat itu berasal dari Allah dan tidak
menyandarkannya kepada makhluk atau kepada diri, daya, kekuatan, atau usaha
sendiri. Tidak pula disandarkan kepada orang lain yang melakukan dengan
tangannya, karena semuanya adalah perantara, alat dan sarana kepadanya.
Penentu, pelaksana, pengada, dan penyebabnya hanyalah Allah SWT. Allah-lah yang
menentukan dan menjalankan, sehingga Dia lebih berhak untuk disyukuri dari
selain-Nya.
Syukur dengan badan dan anggota
badan, yaitu dengan cara melaksakan dan pengabdian. Syukur ini mengharuskan
pengabdian dan pelaksaan perintah serta menjauhkan diri dari larangan.
Bersyukur dengan anggota badan menggerakkan dan menggunakannya untuk ketaan
kepada Allah, bukan untuk selain-Nya. anggota badan tidak mengikuti panggilan
untuk menentang Allah. Hal ini juga termasuk jiwa, hawa nafsu, keinginan, atau
cita-cita yang menjadikan ketaatan kepada Allah sebagai dasar yang diikuti dan
pemimpin.
Syukur dengan hati, yaitu berdiam
atas Allah dengan senantiasa menjaga hak Allah yang wajib dikerjakan. Syukur
hati merupakan pengkuan dari dalam bahwa semua nikmat adalah berasal dari Allah
semata, sebuah ungkapan dari apa yang ada dalam hati. Keyakinan bahwa semua nikmat, manfaat, atau kesenangan, baik lahir
maupun batin, gerakan maupun diam, bersumber dari Allah SWT, bukan selain-Nya.
Selanjutnya, tanda-tanda orang yang
bersyukur dibangun pada lima kaidah dasar.
1. Ketundukan
orang yang bersyukur kepada Zat yang memberi nikmat, yaitu Allah SWT.
2. Lecintaannya
kepada Allah yang telah memberinya karunia.
3. Pengkuannya
terhadap nikmat Allah atasa dirinya.
4. Pujiannya
terhadap Allah.
5. Tidak
menggunakan nikmat itu dalam hal yang dimakruhkan, lebih-lebih yang diharamkan.
Hadirin
yang dirahmati Allah,
Kesimpulannya
adalah hakikat syukur tampak jelas pada lisan seorang hamba dengan memuji,
pengkuan dalam hatinya dengan kesaksian dan kecintaan, serta anggota badannya
tumbuh ketaatan dan kepatuhan kepada Allah SWT.
بَارَكَ اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ
مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَقُلْ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ
لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا
اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا}
وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ
أَجْرًا}
ثُمَّ اعْلَمُوْا
فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ:
{إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ
وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا
وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا
اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا
عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا
قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ
الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. وَأَقِمِ الصَّلاَةَ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar